Sangpencerah.web.id|SELAYAR,—Kita sedang hidup dalam budaya simbol. Songkok putih cepat dianggap tanda haji. Kopiah rapi diasosiasikan dengan kesalehan. Jabatan di ormas Islam dipersepsikan sebagai jaminan keilmuan. Padahal, itu semua belum tentu.
Haji mabrur tidak pernah diukur dari mahalnya kain ihram. Ilmu tidak pernah lahir dari warna kopiah. Dan otoritas tidak otomatis tumbuh dari jabatan. Masalahnya, kita sering berhenti di permukaan. Kita lebih cepat takzim pada tampilan daripada memeriksa substansi.
Lebih mudah terpukau oleh simbol daripada menguji kualitas. Akibatnya, yang dangkal bisa terlihat dalam, dan yang dalam justru sering tak terdengar. Dalam dunia dakwah, ini bukan sekadar kekeliruan—ini bisa menjadi masalah serius.
Muballig adalah guru masyarakat. Apa yang mereka baca, itulah yang didengar umat. Apa yang mereka lafalkan, itulah yang ditiru jamaah.
Jika bacaan Al-Qur’an tidak tepat, jika tajwid diabaikan, jika makharij al-huruf tidak dijaga, maka kesalahan itu tidak berhenti pada satu orang—ia akan menyebar, berulang, dan diwariskan tanpa disadari.
Di titik ini, dakwah bukan lagi sekadar retorika. Ia adalah amanah yang bisa meluruskan, tetapi juga bisa menyesatkan jika disampaikan tanpa ketelitian. Ironisnya, ada yang merasa cukup hanya karena sudah punya panggung. Merasa selesai belajar hanya karena sudah punya jamaah. Padahal Al-Qur’an tidak tunduk pada popularitas, dan ilmu tidak berhenti pada pengakuan sosial.
Kita perlu keberanian untuk mengatakan ini: Tidak semua yang tampil religius itu benar bacaannya. Tidak semua yang punya jabatan itu selesai ilmunya. Dan tidak semua yang didengar itu layak diikuti.
Karena itu, yang harus dibangun adalah kejujuran intelektual. Berani mengakui kekurangan. Mau terus belajar, dan tidak menjadikan simbol sebagai pengganti kualitas.
Sebab pada akhirnya, umat tidak hanya butuh suara yang lantang— tetapi bacaan yang benar. Dan dari situlah, arah akan ditentukan: apakah dakwah menjadi cahaya… atau justru menambah kabut. (Fahmiy Rahman Gani)
