Mengembalikan Masjid Sebagai Pusat Peradaban

Suasana Masjid Jogokarian Yogyakarta. (Goggle)

Sangpencerah.web.id | SELAYAR, -- Populasi Muslim yang besar di Indonesia tentunya menjadi alasan banyaknya Masjid yang dibangun hingga menjadikannya negara dengan jumlah masjid terbanyak di dunia (diperkirakan lebih dari 800.000).

Di satu sisi, kita melihat banyak masjid megah dan indah bermunculan di berbagai penjuru negeri. Tapi di sisi lain, masih banyak masalah sosial dan ekonomi yang belum terpecahkan.

Masjid sebagai simbol keagamaan dan kebanggaan masyarakat, tapi apakah kehadiran mesjid sudah mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang lebih luas? Apakah kita sudah memanfaatkan potensi mesjid sebagai pusat pemberdayaan dan kemajuan umat?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sering muncul ketika kita melihat pembangunan Masjid yang terkadang lebih fokus pada fisik daripada substansi. Jika kita lihat sisi positifnya, mesjid juga bisa menjadi simbol kebersamaan dan kekuatan spiritual bagi masyarakat.

Jika mengingat pada zaman Rasulullah, Selain sebagai tempat ibadah, Masjid pada zaman Rasulullah berfungsi sebagai pusat pendidikan (madrasah), pusat kegiatan sosial & kemasyarakatan, tempat musyawarah dan pengambilan keputusan, pusat pengobatan, bahkan hingga menjadi markas kegiatan militer strategis, menjadikannya pusat peradaban Islam yang menyeluruh untuk membangun umat, bukan hanya sebagai bangunan.

Melirik salah satu Masjid yang eksis hingga saat ini yakni Masjid Jogokarian Yogyakarta. Awalnya hanya langgar kecil (Musholla sederhana) tahun 1960-an, kini menjadi masjid mandiri yang makmur dengan kegiatan beragam, contohnya membangun Islamic Center dan mengelola ekonomi umat, dipimpin tokoh penting seperti Ustadz Muhammad Jazir. 

Masjid yang terkenal di Yogyakarta dan dikenal sebagai pusat peradaban Islam modern ini, menerapkan manajemen masjid inovatif seperti prinsip "saldo nol rupiah" (infak segera disalurkan), aktif dalam kegiatan sosial dan dakwah, serta menjadi destinasi wisata religi yang menarik dengan suasana ramah dan pelayanan berorientasi pada kesejahteraan jamaah. Masjid ini terkenal dengan program pemberdayaan umat, festival keagamaan, dan manajemen transparan yang menginspirasi masjid lain di Indonesia.

Alm. Ustadz Muhammad Jazir memandang Masjid lebih dari sekadar tempat ibadah, tetapi sebagai pusat pemberdayaan umat dengan fungsi ganda: Baitullah (rumah Allah), Baitul Maal (pusat ekonomi/kesejahteraan), dan Baitul Tarbiyah (pusat pendidikan). Beliau menekankan bahwa infak Masjid tidak boleh ditimbun, melainkan harus segera kembali ke umat melalui program sosial seperti ATM beras, penginapan gratis, dan bantuan ekonomi untuk menciptakan masyarakat sejahtera, aman, dan mandiri.

Almarhum Ustadz Muhammad Jazir bahkan sempat mengatakan dalam sebuah vidio ia menegaskan,

"Rasulullah SAW membangun menara bukan untuk keindahan. Bilal bin Robbah naik ke menara dan hanya 5 kali sehari, tapi Rasulullah yang paling sering naik ke menara untuk apa? Melihat jiran-jiran Masjid. ) Apakah mereka dipastikan tidurnyanya, dipastikan sudah makan, sudah kenyang. Maka kalau Rasulullah naik ke menara itu, dilihat ada dapur yang tidak mengepul, didatangi. Eh kamu hari ini kenapa gak masak? Dapurmu gak mengepul. Kami gak punya gandum ya Rasulullah. Tidak ada siir, tidak ada daging.Maka Rasulullah akan memanggil Abdurrahman bin Auf,  bendaharanya. Rasulullah, itu jiran Masjid itu gak ada daging, gak ada ini. Kamu kirim. Apakah sekarang menara Masjid takminnya sering naik untuk melihat nasib kiri kanannya? Kalau gak robohkan saja itu menara. Tidak ada gunanya menara Masjid yang tinggi. Tetangga Masjid tidak bisa nanak nasi. Tetangga masjid tidak bisa tidur karena anaknya gak bisa bayar sekolah. Robohkan itu menara. Menara itu fungsinya adalah untuk memantau nasib para jiran Masjid. Bukan sebagai kebanggaan bangunan Masjid. Bukan ditanya boleh atau tidak kas Masjid itu beli beras orang miskin. Wajib.  Kalau perlu speaker Masjid jual untuk beli beras", Tegasnya dalam vidio tersebut.

Almarhum Ustadz Muhammad Jazir wafat pada hari Senin, 22 Desember 2025, dini hari sekitar pukul 03.00-04.00 WIB, di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta, setelah berjuang melawan penyakit komplikasi. 

Dalam hal ini, Masjid Jogokarian dapat menjadi sumber referensi untuk Masjid yang ada di Selayar agar dikelola dan dijadikan pusat peradaban, Banyaknya Masjid megah yang dibangun, sudah semestinya mampu mejadi tempat yang lebih modern didominasi para anak-anak muda Selayar agar tertarik untuk belajar, dan sekaligus menjadi tempat pemberdayaan masyarakat.

Luasnya Masjid bukankah dapat dimanfaatkan sebagian kecil sisi ruangnya sebagai perpustakaan. Mengingat perpustakaan daerah yang hanya terbuka dihari-hari produktif mulai dari Senin hingga Jum'at saja. Sementara orang-orang yang hanya memiliki waktu untuk membaca pada waktu libur, tak bisa mengakses fasilitas tersebut karena tertutup. 

Sudah menjadi hal yang lumrah setelah dilaksanakannya ibadah sholat, banyak Masjid yang bahkan di kunci. bagaimana jika ada musafir yang singgah, entah sekedar mengistirahatkan diri atau menjalankan ibadah yang terlewat?. bukan kah itu tidak mencerminkan bagaimana sebenarnya arti sebuah Masjid itu?. bagi sebagian orang, mungkin bisa saja mencari Masjid lain yang masih terbuka, atau bahkan di rumah-rumah warga sekitar. Tapi coba kita pahami kembali arti Masjid itu sendiri.

Jika alasannya adalah menghindari pencurian fasilitas, mengapa tidak sediakan ruang untuk menyimpan fasilitas-fasilitas tersebut dan CCTV yang bisa memantau atau bahkan merekrut Marbot yang bisa menjaga, yang mana ruang itu bisa dikunci tanpa harus mengunci Masjidnya. [bersambung...]

(Sitti Nur Jannah)

Lebih baru Lebih lama