Ketika Mereka Telah Sampai Tujuan

Visualisasi mimpi (F/Goggle)

Sangpencerah.web.id | SELAYAR, -- Berbicara tentang tujuan, tentu kita tak jauh-jauh dari mimpi atau harapan. Tentang apa yang menjadi alasan besar kita hidup dan berjuang, bahkan ketika kita di perhadapkan pada posisi yang seakan-akan dunia sudah meminta kita mengahiri hidup itu sendiri.

Perasaan lelah, sakit, dan luka yang semakin hari semakin menyesakkan dada, namun demi tujuan itu, bahkan mengharuskan kita menelan kembali darah yang sudah sampai di kerongkongan. 

Ketika kita berusaha memegang erat harapan itu, bahwa di depan sana, sedikit lagi, selangkah lagi, kita sampai. Tapi kemudian saat kaki itu sudah bergetar hebat untuk satu langkah itu, kita di perhadapkan lagi di situasi dimana kita melihat orang-orang yang sudah sampai pada tujuannya, dan sebuah kenyataan pahit bahwa selangkah dihadapan kita adalah sebuah tembok besar yang entah bagaimana bisa melewatinya.

Disituasi itu, beberapa orang mulai meragukan diri, akankah aku bisa melewatinya?. Bagaimana jika aku gagal?. 

Di situasi inilah beberapa orang mulai lupa tentang banyaknya rintangan yang ia lalui sampai akhirnya menjumpai satu tembok besar itu. Sekonyong-konyong mengatakan pada orang-orang di belakangnya untuk pulang dan menganggap bahwa harapan itu hanyalah tipuan belaka, tak ada yang benar-benar kau dapatkan di depan sana selain penyesalan, kecuali jika mereka mendapatkan jalan yang sama seperti mereka yang telah sampai tujuan di seberang sana.

Sebagian yang masih memegang harapannya, ada yang mulai mencoba memanjat, sebagian bahkan berusaha memahat untuk menembus tembok itu, sambil memohon pada tuhan untuk diberi tenaga dan kesabaran yang besar.

Dalam penyesalan, orang yang sudah kehilangan harapan tadi melihat seberapa keras si pemanjat mencoba, tak peduli terjatuh puluhan kali, ia terus memanjat tembok itu. dan si pemahat, tak peduli seberapa kali tangan nya berdarah terkena pukulan keras batu setiap kali ia memukul pahat yang meleset di tangannya. dan si penyesal mulai menertawakan bahkan yakin bahwa jika ia melakukan hal yang sama, maka ia juga akan sia-sia saja. 

Perlahan saat penyesal terbangun dari tidurnya yang penuh dengan ratapan, ia melihat, si pemanjat dan si pemahat sudah sampai ke tujuan nya dan berhasil melewati tembok besar yang menghalanginya, lalu mulai menyadari dan kembali menyesali mengapa ia tak melakukan hal yang sama. Hingga pada akhirnya ia hanyalah menjadi satu-satunya orang yang tak pernah sampai pada tujuannya.

Tanpa sedikit berfikir bagaimana dan seberapa keras atau seberapa cepat orang itu memulai dan mengambil setiap resiko yang ada dihadapannya. 

Pada saat kita mulai meratapi kegagalan yang kita temui, orang lain mulai mencari solusi. Pada saat kita memilih menikmati hal-hal kecil dan enggan merasakan luka yang lebih besar, tantangan yang lebih sulit, dan jalan yang lebih berbahaya, saat itu orang lain mulai menaklukkan semua itu dengan solusi yang mereka telah dapatkan. 

Sebagian orang yang masih memiliki logika akan belajar dari kesalahannya dan mulai menyadari bahwa Tuhan itu Maha adil, dan setiap skenarionya di dunia ini sudahlah pasti adil, 

Bagaimana mungkin Tuhan membiarkan mu menikmati sesuatu yang tidak siap kamu perjuangkan? bagaimana mungkin Tuhan menyamakan apa yang kamu dapatkan dengan orang-orang yang berjuang lebih keras dibanding kamu?. Bukankah itu mengingkari sifat-Nya yang Maha Adil?, Semestinya kamu sebagai makhluk haruslah tau diri. Makhluk tak pantas bertanya kenapa pada Tuhan yang menciptakan.

Ketika kita melihat dari sudut pandang cinta, Allah adalah yang paling besar cinta-Nya pada makhluk-Nya. Sesuai namanya Al-WadÅ«d (ٱلْÙˆَدُودُ) Yang Maha Pengasih', Yang maha Penyayang, Sumber dari segala kasih sayang.

Jika manusia sangatlah takut pada Neraka-Nya dan menjadikan itu alasan Menyembah atau Beribadah agar tak menjadi orang-orang yang masuk didalamnya, Dan juga menjadikan alasan menyembah dan beribadah untuk mendapatkan Surga-Nya, adalah sebuah kekeliruan. 

Dalam pemahaman itu, seakan-akan tidak ada keikhlasan didalamnya, manusia menyembah bukan karena Cintanya pada Allah, melainkan mengharap Surga. Setelah ribuan kenikmatan yang sudah Allah berikan, ribuan Cinta yang Allah Berikan, Manusia masih mengharap balasan atas itu.

Tanpa kita sadari, Allah bahkan menciptakan Neraka itu sebagai bentuk Cinta-Nya yang paling besar. Karena didalamnya ada proses pembersihan, Manusia di bersihkan dari dosa-dosa yang dilakukan selama di dunia, yang akan membuatnya tidak bisa merasakan nikmatnya Surga akibat dosa-dosa itu jika tidak di bersihkan.

Jika kita analogikan Dosa itu sebagai penyakit, Saat seseorang sakit, maka ia cenderung tidak bisa melakukan apa-apa, tidak bisa merasakan nikmatnya makanan, yang membuat orang itu tidak bisa menikmati segala kenikmatan yang ada dihadapannya, maka dari itu mestilah disembuhkan. 

Jika kita memandang dari sudut pandang itu, kita mulai beribadah, menyembah-Nya dengan cinta, dan berprasangka baik kepada-Nya, Maka saat itulah kita menyadari apa arti dari Cinta itu sendiri, yang tanpa batas, yang melampaui logika manusia, yang tak ada bentuk transaksi didalamnya (Balasan) yang tak terlihat oleh mata, namun terasa dalam Jiwa, yang mengalahkan egoisme, yang mengalahkan kekecewaan, dan menyembuhkan Jiwa yang sakit.

Satu yang selalu kita lupakan, Bahwa Allah lebih mencintai hamba-hambanya yang menyadari dosanya dan memohon ampun pada-Nya, di banding orang-orang yang terus beribadah namun merasa berbangga diri, yang bahkan beribadah dan menyembah karena Mengharap Surganya.

"Jika tak ada dosa, lalu apa yang harus diampuni? Jika tak ada kesalahan lalu apa yang perlu dimaafkan? jika tak ada kesulitan, tentulah tak ada pula kemudahan karena dari setiap kesulitan, kita tahu ada kemudahan. Jika tak ada kotoran, maka tak ada yang perlu dibersihkan, jika tak ada sakit, maka tak ada kesehatan, dan jika tak ada keresahan, maka tak ada pula ketenangan. 

Barakallahu fiik...

(Sitti Nur Jannah)


Lebih baru Lebih lama