Suasana Nataru
Sangpencerah.web.id | SELAYAR, -- Periode libur panjang di akhir Desember hingga awal Januari yang mencakup perayaan hari raya keagamaan Natal dan Tahun Baru Masehi, sering dimanfaatkan untuk mudik, liburan, dan berkumpul keluarga, serta menjadi masa krusial bagi sektor transportasi.
Polri menggelar Operasi Lilin 2025 untuk menjaga keamanan Nataru dengan 146.701 personel gabungan. Mereka melakukan penjagaan di lokasi strategis, patroli gabungan, dan membangun posko terpadu di 2.903 titik. Tujuannya tentunya untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat yang merayakan Natal dan Tahun Baru.
Dalam hal ini, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyebut pihaknya menggandeng organisasi kemasyarakatan (Ormas) seperti Banser NU dan Kokam Muhammadiyah untuk mengamankan Natal 2025.
"Kami Polri saat ini menurunkan kurang lebih 147.000 personel gabungan, dan kemarin juga kami melaksanakan apel bersama-sama dengan rekan-rekan lain seperti Banser. Kami juga mengajak Kokam untuk ikut bersama-sama melaksanakan kegiatan pengamanan khususnya di Gereja yang melaksanakan perayaan Misa Natal," ujar Sigit di Gereja Katedral, Jakarta Pusat, Rabu (24/12), Di kutip dari Kompas.com.
Merujuk peristiwa Pasca terjadinya bom Bali, bom MARI, bom Toyota, ataupun bom yang terjadi di Negeri Paman Sam (USA) Pengeboman Boston dan Bom kecil - kecil lainnya, membuat dunia fokus pada satu isu Terorisme, dan itu Islam. Benarkah demikian??
Muslim tentu tidak sepakat akan hal itu, baik secara logika atau nurani. Jiwa-jiwa berontak dan akal sehat malah jumplang, tak terima. Tapi kenyataannya, semua energi di bumi fokus pada isu itu. Islam teroris, teroris Islam.
Imbasnya, untuk mengcounter itu maka muncullah Ijtihad dari banyak pihak yang mengaku pembela Islam. Yang paling Santer ya Banser (Barisan Serba guna) milik organisasi tertua ke dua adik kandung dari Muhammadiyah ini yakni Nahdatul ulama.
Setiap tahun Banser ikut serta dalam pengamanan Natal dan tahun baru, tetapi tidak dengan waisak, nyepi, dan imlek lebih-lebih dua ied, Idul fitri dan Idul Adha. Maksudnya tidak se-aktif itu jika untuk mengamankan Nataru. Pasalnya terbukti belum pernah ada media yang memuat soal itu. Selain pengamanan Nataru. Apakah salah dalam tinjauan syariat?.
Mengamankan Manusia pada umumnya, menjaganya, itu tujuan syariat Islam itu sendiri. Sebagai rahmat bagi seluruh alam. Tanpa pandang latar belakang makhluk. Tetapi jangan sampai kebablasan.
Penjagaan terhadap nataru, berimbas pada atau menghasilkan opini baru dan ini "framing" (Penekanan isu/kesalahpahaman) dahsyat. Salah satunya, Ummat Kristiani terkesan Ummat terdzolimi, yang tidak terjamin keamanannya. Sehingga wajib dijaga bukan hanya TNI/Polri yang memang itu tugas mereka. Sehingga harus ditambah dengan Banser, padahal Personil TNI/Polri sangatlah banyak, belum lagi Komcad, hingga Pol. PP.
Jangankan Nataru, Negara saja yang luasnya melebihi banyak negara eropa, mampu dijaganya apalagi hanyalah ummat Kristiani. Imbas dari Kesibukan Banser dalam menjaga Nataru akan melahirkan beberapa framing.
Pertama, TNI/Polri, Komcad, Pol.PP, tidak mampu menjaga Keamanan Nataru.
Sehingga harus dibantu oleh Banser.
Kedua, Ummat Muslim itu teroris, sehingga ketika mereka merayakan hari raya pasti aman, karena terorisnya beribadah.
Ketiga, Ummat Kristiani Eksklusif sehingga harus dijaga berbeda dengan ummat lainnya.
Framing tersebut tentulah menjadi persoalan terutama untuk kita di Indonesia yang memiliki beragam agama serta toleransi yang tinggi untuk kerukunan setiap umat beragama.
Menurut Ketua Bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia, Prof Huzaemah Tahido Yanggo, hukum seorang Muslim memberikan pengamanan terhadap pelaksanaan ibadah non-Muslim adalah boleh. Terlebih, dia menilai, apabila dalam kondisi darurat dan sangat diperlukan.
Memberikan keamanan terhadap non-Muslim diperbolehkan dengan tujuan untuk melindungi jiwa sesama manusia. Menurut Huzaemah, dalam ajaran Islam tolong-menolong dalam urusan muamalah dengan non-Muslim diperbolehkan.
Harapannya, pengamanan untuk setiap perayaan keagaman dapat di laksanakan tanpa menimbulkan pemahaman yang buruk dan mengutamakan sikap toleran yang tinggi, serta kesetaraan dalam menyikapi suatu tugas pengamanan.
"Mengamankan tidaklah mengucilkan/merendahkan kelompok yang lain, melainkan sikap kemanusiaan yang ada didalamnya". (IM/SNJ)
Tags
News