BLT, Tani, Dan Budaya Malas Masyarakat

Ilustrasi Tani (F/Istimewa)

Sangpencerah.web.id | SELAYAR,-- Bantuan Langsung Tunai (BLT), yakni program pemerintah Indonesia berupa pemberian uang tunai langsung kepada masyarakat miskin dan rentan miskin guna membantu memenuhi kebutuhan dasar, meringankan beban ekonomi, dan menjaga daya beli, terutama di masa-masa sulit seperti kenaikan harga atau dampak krisis ekonomi. 

Bantuan ini bisa berasal dari Dana Desa (BLT-DD) atau sumber lain, dan diberikan kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang memenuhi kriteria tertentu.

Namun, seiring berjalannya waktu, seringkali penerima BLT tidak tepat sasaran, menimbulkan ketidakadilan sosial, penyalahgunaan dana, ketergantungan masyarakat, hilangnya efektivitas program, yang berujung pada kerugian negara hingga ratusan miliar rupiah per bulan. 

Penelitian menunjukkan bahwa ketidakmerataan dalam penyaluran bantuan sosial di Indonesia terutama disebabkan oleh ketidakakuratan data penerima, kurangnya sosialisasi dari pemerintah kepada masyarakat, lemahnya mekanisme pengawasan, serta kurangnya koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah. 

Hal tersebut lah yang membuat sebagian masyarakat memilih berkebun/bertani, namun sebagian besarnya lebih memilih menaikkan gengsi dan bahkan ada yang hanya mengharapkan BLT Pemerintah.

Beralih ke pertanian, Meskipun profesi petani sangat penting untuk kehidupan kita, kenyataannya banyak generasi muda yang kurang tertarik untuk menjadi petani. Padahal pertanian sangat vital bagi pangan.

Dilansir dari Identitasunhas.com, dari segi ekonomi dan sosial, sektor pertanian memang kurang menarik. Secara ekonomi, bertani sering dianggap sebagai aktivitas yang berisiko tinggi. Misalnya, ketika kita menanam jagung dengan harga awal Rp4.800–Rp5.000 per kilogram. Harga saat panen belum tentu sama atau lebih tinggi. Harganya bisa saja turun drastis hingga Rp2.500 per kilogram. Hal ini terjadi pada hampir seluruh komoditas.

Kepemilikan lahan pertanian juga semakin berkurang. Akibatnya, jumlah petani muda terus menurun, menjadikan sektor ini semakin didominasi oleh generasi yang lebih tua dan terlihat sebagai sektor yang menua.

Walaupun banyak orang-orang yang berkuliah di pertanian, namun hanya sebagian kecil dari mereka yang ingin bertani. Kalaupun masih berhubungan dengan pertanian, mereka akan lebih memilih untuk menjadi penyuluh pertanian, dosen, kerja di perusahaan agrikultur, bahkan menjadi pegawai bank. Selain itu, banyak ilmu yang diajarkan di perkuliahan tidak relevan dengan kondisi nyata di lapangan.

Saat ini, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar, sedang gencar menjalankan program yang berfokus di sektor Pertanian. Namun, program ini tentunya tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya apabila masyarakat tidak terlibat aktif didalamnya. 

Hal yang seringkali membingungkan adalah tingkat ketertarikan masyarakat yang minim dalam mensukseskan program tersebut. Padahal program tersebut merupakan solusi yang sudah disiapkan untuk membangun ketahanan pangan dan kemandirian finasial di masa depan bagi masyarakat Selayar. 

Lagi dan lagi, hal ini disebabkan karena budaya malas yang seringkali mendarah daging di masyarakat.

Budaya malas masyarakat, yakni sikap dan perilaku yang cenderung menghindari pekerjaan, tanggung jawab, dan aktivitas yang memerlukan usaha keras. 

Meskipun istirahat dan relaksasi memang diperlukan untuk mengisi energi dan meningkatkan produktivitas. Namun, jika budaya malas menjadi kebiasaan dan menghalangi kemajuan, maka itu bisa menjadi masalah.

Budaya malas memang sering dikaitkan dengan stereotip "santai" atau "ngga mau ribet". Di Selayar sendiri, Pertanian dan Perikanan merupakan sektor yang menjanjikan namun, kedua sektor ini seringkali kurang dilirik oleh masyarakat Selayar. Ketergantungan dan gaya hidup yang memperkuat rasa gengsi, membuat sebagian masyarakat enggan mengeluarkan keringat lebih untuk bertani atau menjadi nelayan meskipun memiliki lahan yang potensial dan sudah lama diabaikan, serta kekayaan laut yang besar.

Padahal, jika melirik sejarah, pertanian Selayar yang sangat erat kaitannya dengan kelapa, sejak abad ke-16 sudah menjadi komoditas ekspor utama dan dijuluki "emas hijau" oleh Belanda, yang membuat kopra jadi tulang punggung ekonomi dan sumber kekayaan, bahkan muncul budaya gigi emas. 

Di samping kelapa, masyarakat Selayar juga memiliki tradisi agraris turun-temurun bernama A'rera' (gotong royong menggarap lahan) sejak abad ke-13, yang memperkuat kerja sama dalam pengolahan lahan pertanian dan perkebunan.

Namun faktanya, sampai sekarang daerah ini tetap saja masih mengandalkan hasil pertanian impor seperti sayuran bahkan beras, dari luar daerah. 

Ini membuktikan bahwa, ketergantungan dan budaya malas seringkali menghambat berkembangnya suatu daerah bahkan dengan potensi di sektor yang menjanjikan sekalipun(Sitti Nur Jannah)



Lebih baru Lebih lama