Sangpencerah.web.id|SELAYAR,—615 hari tanpa pelukan, tanpa opor ayam, dan tanpa tawa Ibu. Di balik bilik kamar yang temaram, Airah, Kak Aiman, dan Ayah merajut sisa-sisa harapan di tengah badai ujian yang menguji ketulusan cinta mereka. Simak kelanjutan Cerpen Salma di chapter 3. Berjudul Jangan Pergi Dulu, Ibu.
JANGAN PERGI DULU, IBU.
Sudah 615 hari ibu hanya bisa berbaring ditempat tidur. Artinya sudah satu tahun delapan bulan Lima hari aku menanti pelukan hangat ibu. Sudah dua kali pula aku dan Kak Aiman terima rapor tanpa ditemani ibu, tanpa ketupat dan opor ayam masakan ibu.
Sekarang aku sudah kelas Dua SMP dan Kak Aiman sudah duduk di kelas Tiga SMA. Sejak peristiwa patahnya stan kaki motor ayah, Kak Aiman banyak berubah. Ia semakin pedulia pada keadaan rumah. Hal itu memberikan kami energy dalam menjalani hari dan merawat Ibu. Banyak pekerjaan yang dulu aku kerjakan diambil alih oleh Kak Aiman. Seperti antar kue jualan ke kampung sebelah, jemput ayah di kebun, ambil air di sumur dan lain sebagainya. Aku sendiri lebih banyak mengerjakan pekerjaan yang dulu ibu kerjakan, itupun dibantu oleh kakak. Kata Kak Aiman, Airah sudah anak gadis, nggak boleh ngerjakan pekerjaan laki-laki lagi, fokus pada pekerjaan perempuan dan nggak boleh lelah, nggak boleh sedih lagi. Kak Aiman semakin dewasa, meskipun dulu aku sering dijahilin, dibuat menangis, tapi sekarang selain ayah, kakaklah laki-laki adalah idolaku. Kami selalu pergi dan pulang bareng sekolah. Aku nggak boleh pulang sama teman. Teman juga harus milih-milih.
“Airah sekarang sudah SMP, teman-teman di sekolah semakin beragam dan semakin banyak. Beda dengan waktu SD, teman Airah paling orang di kampung dan kampung sebelah. Airah nggak boleh sembarangan berteman baik perempuan maupun laki-laki. Lihat-lihat dulu orangnya, adabnya, akhlaknya,” berulang kali Kakak ucapkan itu waktu pertama kali aku diantar ke sekolah SMP. Bukan hanya hari itu esoknya dan esoknya diingatin terus sampai telingaku rasanya penuh.
“Sekarang, kamu belum paham dek, tapi nanti kamu akan paham. Tidak semua teman itu baik. Setiap teman akan mempengaruhi perkembangan mental, sikap dan perkataan Airah,” Ayah juga menasehati beberapa kali.
615 hari bukan waktu yang singkat bagi kami, lebih – lebih ibu yang menjalani dan merasakan sakitnya. Tapi kami tidak pernah berputus asa dan terus yakin suatu hari ibu akan sembuh seperti sebelumnya. Suatu hari kami akan merasakan pelukan hangat ibu, lewat masakannya yang penuh cinta, tutur katanya maupun do’a-do-a yang ibu langitkan dalam setiap sujudnya.
“Airah…tolong ambilkan handuk ayah di jemuran belakang,” Suara ayah membuyarkan lamunanku memandangi langit senja yang mulai memerah diufuk barat. Aku langsung berdiri dan mengambilkan handuk ayah.
“Ayah sudah pulang?” ucapku begitu sampai dipintu belakang dan memberikan handuk kepada ayah.
Ayah mengambil handuk dari tanganku dan menyerahkan keranjang yang dibawa dari kebun. Ada uni jalar, tomat, papaya dan alpukat. “Alpukatnya sudah matang Ayah?” mataku berbinar melihat buah bulat hijau yang mengkilap di keranjang. Aku masuk kerumah sambil nyanyi – nyanyi kecil karena senangnya. Alpukat ini buah kesukaan aku dan ibu. Kalau Ayah dan Kak Aiman sukanya Rambutan dan Mangga. Sampai di dapur aku keluarkan isi keranjang dan mengaturnya dengan rapi di meja di dapur.
Aku melihat keluar jendela. Sudah waktunya Ibu mandi sore. Langit yang tadinya memerah karena pantulan cahaya senja kini tertutup awan kelabu menggantung rendah. Angin yang biasanya membawa kesejukan dari hamparan sawah kini terasa dingin menusuk hati. Aku cepat – cepat masuk ke kamar Ibu. Disana sudah ayah dan kak Aiman. Memang, membantu ibu mandi bukan hanya berat dan juga bukan hal yang ringan, namun Ayah mengajarkan kami untuk selalu lakukan bersama-sama. Saling membantu. Mulai sore sampai malam kami akan selalu ada disamping ibu menghabiskan waktu bersama, ngobrol. Meskipun ibu belum bisa bicara dan hanya merespon lewat sorot mata dan gerakan bibirnya.
Aku, Kak Aiman, dan Ayah bergantian menyuapi, memandikan, memijat, hingga membantu mengubah posisi tubuh Ibu agar tidak terlalu lama berbaring pada satu sisi.
“Kalian itu saudara, dan kalian hanya dua bersaudara. Ayah dan ibu berharap kalian bisa saling mendukung satu sama lain baik sekarang maupun nanti,”
Ayah sering mengulang kalimat yang sama kepada kami. Entah itu dimeja makan, saat kami mencabut rumput tanaman di kebun atau saat minum teh bersama-sama. Makanya aku nggak heran ketika kak Aiman juga sering mengulang – ulang kalimatnya saat mengingatkanku. Sudah warisan.
"Aiman, bantu Ayah balikkan badan Ibu pelan-pelan," kata Ayah.
Aku berdiri di samping tempat tidur sambil menyiapkan kain bersih dan MHS yang sudah aku hangatkan. Kata ayah minyak ini sangat baik untuk membantu mlancarkan peredaran darah ibu. Ayah dan Kak Aiman mengangkat tubuh Ibu dengan sangat hati-hati.
Saat tubuh Ibu berhasil dimiringkan, mendadak Kak Aiman terdiam. Wajahnya pucat.
"Ayah..." suaranya bergetar.
"Ada apa?"
Kak Aiman menunjuk bagian punggung bawah Ibu. Aku yang berdiri di samping langsung melihat ke arah yang sama.
Saat itulah dadaku terasa sesak.
Kulit di bagian belakang tubuh Ibu tampak lecet dan berdarah. Beberapa bagian bahkan memerah dan seperti terluka mungkin karena terlalu lama tertekan di atas tempat tidur. Aku menutup mulutku dengan kedua tangan.
"Ya Allah..." bisikku.
Air mataku langsung menggenang.
Selama ini kami merasa sudah merawat Ibu dengan sebaik mungkin. Kami mengganti pakaian, membersihkan tubuhnya, memberi makan dan obat tepat waktu. Tapi kami tidak menyadari ada luka yang tumbuh perlahan di punggungnya.
Tadi pagi waktu ibu digantikan bajunya lukanya belum ada. Mungkin ada tapi belum terlalu kelihatan.
Aku melihat wajah Ibu yang meringis menahan sakit.
Hatiku seperti diremas.
Dulu Ibu adalah perempuan paling kuat yang kukenal. Ia selalu bangun sebelum azan subuh, memasak untuk kami, membersihkan rumah, membuat bermacam-macam kue untuk dijual ke kampung sebelah, membantu tetangga, bahkan masih selalu tersenyum meski kelelahan.
Kini ia bahkan tidak mampu membalikkan tubuhnya sendiri.
Aku tak kuasa menahan tangis.
"Ibu sakit, Yah..." suaraku pecah.
Kak Aiman ikut terlihat panik. Ia mondar-mandir di dalam kamar.
"Bagaimana kalau lukanya makin parah? Bagaimana kalau infeksi? Bagaimana ibu tidur dengan nyenyak dengan luka itu, Bagaimana…Bagaimana kalau..."
Kalimatnya terputus.
Aku tahu sebenarnya Kak Aiman sedang menahan ketakutan yang sama denganku. Ketakutan kalau sakit ibu semakin parah, ketakutan kehilangan Ibu.
Ayah memandangi luka ibu cukup lama. Aku melihat matanya memerah. Untuk sesaat, wajah Ayah tampak begitu rapuh. Mungkin sama seperti kami, Ayah juga sedang ketakutan.
Namun beberapa detik kemudian, Ayah menarik napas panjang. Ia mengambil kain bersih dan mulai membersihkan luka Ibu dengan tangan yang gemetar.
"Kita rawat pelan-pelan," katanya.
Suaranya terdengar tenang, meski aku tahu hatinya sedang bergejolak.
Aku duduk di lantai sambil menangis.
"Airah takut, Yah."
Ayah menoleh ke arahku.
Tatapan matanya cukup dalam.
"Ayah juga takut."
Aku terkejut mendengar pengakuan itu.
Selama ini Ayah selalu terlihat kuat.
"Tapi kalau kita semua larut dalam ketakutan, siapa yang akan menguatkan Ibu?" lanjutnya.
Kamar itu mendadak sunyi. Hanya terdengar suara kipas angin tua yang berputar pelan di sudut ruangan.
Ayah menggenggam tangan Ibu yang kurus.
"Dengarkan Ayah baik-baik."
Aku dan Kak Aiman memandangnya.
"Sakit Ibu memang berat. Tapi Insya Allah perjalanan kita masih panjang. Mungkin juga akan ada banyak air mata lagi setelah ini."
Suara Ayah mulai bergetar.
"Selama Allah masih memberi Ibu napas, selama itu pula kita tidak boleh menyerah. Ibu harus kuat ya….."
Ayah menggenggam tanga ibu semakin erat, lalu mengusap kepala ibu dengan lembut, mencium ubun-ubunnya. Aku lihat ibu tersenyum.
Air mataku semakin deras. Aku menutup muluku dengan kedua tangan, berusaha agar isak tangisku tak didengar oleh siapapun
Ayah mengusap kepala kami satu per satu.
"Kalian tahu apa yang membuat Ibu bertahan sampai hari ini?"
Aku menggeleng.
"Kalian."
Aku menunduk.
"Kehadiran kalian. Suara kalian. Tangan kalian yang selalu merawatnya."
Ayah tersenyum tipis meski matanya basah.
"Jadi jangan menangis karena takut kehilangan Ibu. Menangislah dalam doa. Minta kepada Allah agar memberi yang terbaik untuk Ibu, Ibu kalian bisa sehat kembali."
Aku memandang wajah Ibu.
Ada air mata yang mengalir di sudut matanya.
Entah karena menahan sakit atau karena mendengar percakapan kami.
Aku menggenggam tangannya erat.
"Ibu harus sembuh," bisikku.
Kak Aiman ikut memegang tangan Ibu dari sisi lain.
"Ibu masih harus marahi Airah kalau bangun subuhnya terlambat. Ibu masih harus masakin ketupat dan opor ayam kalau Airah dan kakak terima rapor. Ibu masih harus temani Kak Aiman mendaftar di Universitas. Kakak sekarang idolanya Airah bu, kakak nggak pernah lagi buat Airah menangis, Kakak selalu menjaga Airah. Ibu harus sembuh ya… "
Untuk pertama kalinya sore itu, Ayah tertawa kecil.
Aku ikut tersenyum di sela tangis.
Dan di tengah kesedihan yang memenuhi kamar sederhana kami di Kampung Pakkopiang, kami kembali belajar satu hal:
Cinta bukan hanya tentang kebersamaan saat semuanya baik-baik saja.
Cinta adalah tetap bertahan ketika tubuh yang kita sayangi mulai melemah.
Tetap menggenggam ketika keadaan terasa menakutkan.
Tetap berharap ketika kenyataan membuat hati nyaris patah.
Sore ini, saat melihat luka di punggung Ibu, kami sadar bahwa sakitnya mungkin jauh lebih berat daripada yang selama ini kami bayangkan.
Namun kami juga selalu meyakinkan hati kami bahwa selama kami masih bisa duduk di sisinya, memegang tangannya, dan mengucapkan doa untuknya, maka harapan itu belum benar-benar hilang.
Dan malam ini, di bawah lampu kamar yang temaram, kami bertiga memeluk Ibu dengan hati yang penuh ketakutan sekaligus cinta—karena tidak ada yang lebih menyakitkan daripada membayangkan kehilangan seorang ibu, dan tidak ada yang lebih menguatkan selain tetap menjaganya dengan tulus dan penuh kasih sayang yang kami miliki.

