Sangpencerah.web.id | SELAYAR, – Di tengah eskalasi perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel yang kian memanas, Pemerintah Indonesia kini berada di bawah sorotan tajam. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, secara mengejutkan menyebut bahwa cadangan Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional yang hanya cukup untuk 20 hari bukanlah sebuah kondisi darurat.
Pernyataan Bahlil ini memicu polemik mengenai betapa rapuhnya ketahanan energi nasional. Di saat jalur distribusi vital Selat Hormuz ditutup oleh otoritas Iran yang mana jalur tersebut mengalirkan 20 persen minyak dunia, Indonesia justru terjebak dalam batas maksimal infrastruktur yang memprihatinkan.
Dilansir dari media Tempo, Bahlil mengakui bahwa stok 20 hingga 21 hari merupakan "standar nasional" karena keterbatasan fisik tempat penyimpanan (storage) yang dimiliki tanah air. Kapasitas maksimal penyimpanan Indonesia tercatat hanya mampu bertahan hingga 25 hari.
"Kenapa kita tidak melakukan persediaan lebih dari 25 hari? Karena kalau ada pun kita mau simpan di mana? Storage-nya tidak cukup," ujar Bahlil di Istana Kepresidenan Jakarta (4/03/2026), seolah mengonfirmasi bahwa selama bertahun-tahun, Indonesia gagal membangun benteng pertahanan energi yang memadai.
Kini, di bawah bayang-bayang harga minyak dunia yang meroket hingga US$ 84 per barel, Bahlil membawa mandat baru dari Presiden Prabowo Subianto: membangun infrastruktur penyimpanan agar cadangan nasional bisa mencapai tiga bulan. Namun, publik mempertanyakan mengapa langkah strategis ini baru dikebut saat api konflik sudah menyulut jalur impor kita.
Kondisi ini kian genting mengingat Indonesia masih sangat bergantung pada impor BBM, terutama untuk memenuhi kebutuhan menjelang perayaan Lebaran. Jika proyek pembangunan storage ini kembali melambat, maka nasib perut energi rakyat akan terus disandera oleh gejolak geopolitik Timur Tengah yang sulit diprediksi.
Meski Bahlil mengeklaim subsidi energi masih terkendali, analisis pasar dari Kiwoom Sekuritas memberikan peringatan keras. Gangguan di Selat Hormuz bukan sekadar masalah logistik, melainkan ancaman inflasi energi global yang siap menghantam daya beli masyarakat.
Pertanyaannya adalah, mampukah Bahlil merealisasikan janji "cadangan 90 hari" tersebut sebelum stok 20 hari yang ia banggakan itu benar-benar habis akibat perang yang tak kunjung usai?. (Sitti Nur Jannah)