Sangpencerah.web.id | MAKASSAR – Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan, Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag., secara resmi menutup kegiatan Darul Arqam Pimpinan Utama (DAPU) yang diikuti oleh civitas akademika Muhammadiyah se-Sulsel. Dalam arahannya, beliau menekankan bahwa kunci kesuksesan organisasi dan individu terletak pada kesungguhan dalam berjihad.
Jihad sebagai Kunci dan Perekat Organisasi
Prof. Ambo Asse menegaskan bahwa manusia boleh berencana, mendesain, dan bekerja keras, namun tanpa spirit jihad yang di dalamnya terkandung kesungguhan dan kesabaran. Hasil yang dicapai mungkin akan mendatangkan kekecewaan. Beliau juga mengingatkan pentingnya menjaga soliditas di internal persyarikatan dan perguruan Muhammadiyah.
Beliau turut berpesan agar jangan sampai ada kelompok-kelompok di dalam persyarikatan maupun perguruan yang justru menghancurkan Muhammadiyah dari dalam. Eksklusivitas kelompok itu tidak penting. Yang utama adalah jangan sampai ada kekosongan kepemimpinan.
"Kelompok-kelompok di Perserikatan Muhammadiyah, di Perguruan Muhammadiyah, inilah yang menghancurkan Muhammadiyah. Masing-masing memiliki kelompok, dan itu tidak penting. Jangan sampai ada yangg kosong dalam kepemimpinan di Muhammadiyah." Tegasnya.
Beliau menambahkan bahwa pelaksanaan Darul Arqam ini bertujuan untuk mengikis sekat-sekat kelompok dan istilah "kader atau non-kader" di lingkungan akademisi. Menurutnya, siapa pun yang sudah menjabat secara struktural di perguruan Muhammadiyah, maka ia secara otomatis adalah kader yang memikul tanggung jawab ideologis.
Di tempat yg terpisah pakar Saintifik dari Universitas Muhammadiyah Jakarta, yang juga Master Of trining DUPA. Prof. Ambo Asse menyoroti pentingnya transformasi ke bidang Sains dan Teknologi (Saintek). Muhammadiyah kini mulai fokus pada pengembangan program studi strategis seperti Film & TV, Entrepreneurship berbasis IT, Data Science, dan Komunikasi Digital.
"Mengandalkan cara tradisional akan membuat kita tergilas. Baik itu dalam branding, counter isu, maupun politik. Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan spanduk. Fokus kita harus pada syiar digital dan fungsi Public Relations (PR) berbasis digital," ungkapnya.
Beliau mendorong agar Muhammadiyah mampu mengapitalisasi ekosistem digital secara beradab. Penguasaan Big Data menjadi tantangan utama, mengingat konsolidasi data anggota Muhammadiyah secara nasional masih memerlukan integrasi server yang lebih kuat. Beliau bahkan memunculkan gagasan tentang perlunya "Chat GPT Versi Muhammadiyah" serta algoritma AI yang mampu mendesain pola dakwah berdasarkan preferensi masyarakat.
Transformasi Menjadi Universitas Saintek Muhammadiyah
Dalam momentum tersebut, dipaparkan pula perjalanan panjang transformasi pendidikan dari STIMIK Muhammadiyah yang kini berkembang menjadi Universitas Saintek Muhammadiyah setelah melalui proses selama 30 tahun.
Menutup arahannya, Prof. Ambo Asse mengajak seluruh warga Muhammadiyah untuk memakmurkan masjid sebagai pusat solusi. "Orang Muhammadiyah itu harus aktif ke masjid, bersilaturahmi di masjid, dan menyelesaikan segala persoalan di masjid," pungkasnya.
Kegiatan DAPU kali ini mencatatkan skor capaian yang signifikan, dengan rata-rata indeks level civitas akademika pada angka 67 (Dapu 1) dan 73 (Dapu 2), yang menunjukkan kesiapan SDM Muhammadiyah Sulsel dalam menghadapi tantangan zaman.
Pada akhirnya, kemuliaan bukanlah tahta yang diraih dengan riuh rendah perpecahan, melainkan jejak sunyi dari sebuah pengabdian yang tulus. Sebagaimana pesan Prof. Ambo Asse, jihad adalah napas yang menyatukan derap langkah dalam satu barisan yang kokoh. Di bawah naungan masjid dan di tengah arus digital yang menderu, Muhammadiyah dipanggil untuk tidak sekadar ada, tapi menyala, menjadi pelita yang tak kunjung padam oleh badai zaman, membuktikan bahwa kesungguhan adalah satu-satunya jembatan menuju rida Ilahi.
Sejarah tidak pernah memihak pada mereka yang terpecah dalam kelompok-kelompok kecil yang semu. Ia hanya akan mencatat mereka yang berani meleburkan ego demi tegaknya panji kebersamaan. Perjalanan menuju fajar digital ini adalah medan juang baru, di mana data dan teknologi hanyalah raga, sementara iman tetap menjadi jiwanya. Menutup lembaran Darul Arqam ini, kita diingatkan bahwa menjadi kader adalah tentang kerelaan untuk ditempa; agar kelak, ketika zaman menuntut bukti, kita berdiri sebagai satu tubuh yang utuh. Tak tergerus arus, namun mampu mewarnai samudera peradaban.
Sebab jalan menuju kemuliaan senantiasa terjal dan hanya bisa didaki dengan tunggangan kesabaran serta bekal jihad yang tak mengenal batas. Biarlah teknologi menjadi sayapnya dan masjid menjadi akarnya. Karena pada titik temu antara kening yang bersujud dan tangan yang berkarya, di sanalah kejayaan Muhammadiyah akan menemukan rumah sejatinya. (W/Sitti Nur Jannah)
