![]() |
| Suasana aksi unjuk rasa besar-besaran yang dipusatkan di bawah jembatan layang (fly over) Jalan AP Pettarani (Photo: Google) |
sangpencerah.web.id|MAKASSAR – Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day di Kota Makassar kembali diwarnai dengan aksi unjuk rasa besar-besaran yang dipusatkan di bawah jembatan layang (fly over) Jalan AP Pettarani, Jumat (1/5). Ratusan massa yang tergabung dalam Konfederasi Serikat Nusantara (KSN) mulai memadati lokasi sejak pukul 10.00 WITA untuk menyuarakan keresahan mereka terkait kondisi ketenagakerjaan saat ini.
Dalam orasinya, para buruh menyoroti berbagai kebijakan ekonomi nasional yang dianggap terlalu membuka ruang bagi intervensi asing. Massa mendesak agar pemerintah lebih mengedepankan kedaulatan ekonomi serta segera mengesahkan regulasi ketenagakerjaan yang memberikan perlindungan nyata bagi hak-hak pekerja. Mereka menilai tanpa perlindungan hukum yang kuat, posisi tawar buruh akan terus melemah di tengah dinamika industri yang semakin kompetitif.
Selain isu kedaulatan ekonomi, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) secara sepihak juga menjadi sorotan utama dalam aksi tersebut. KSN mengecam keras maraknya praktik PHK yang dilakukan tanpa alasan transparan dan prosedur yang jelas. Massa menuntut agar pemerintah segera mengambil langkah tegas untuk menghentikan praktik sewenang-wenang ini demi menjaga stabilitas ekonomi para pekerja dan keluarga mereka.
Persoalan kesejahteraan melalui upah minimum turut memicu semangat massa aksi. KSN secara tegas menyatakan penolakan terhadap kebijakan penangguhan upah minimum untuk tahun 2026, baik itu pada level Upah Minimum Provinsi (UMP), Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK), maupun Upah Minimum Sektoral (UMPS). Bagi para buruh, upah yang layak adalah harga mati yang tidak boleh dikompromikan di tengah meningkatnya biaya hidup.
Hingga menjelang siang, situasi di bawah fly over Pettarani terpantau tetap kondusif di bawah pengawalan ketat aparat kepolisian. Meski massa cukup padat, arus lalu lintas di sekitar lokasi masih dapat dikendalikan berkat pengaturan petugas di lapangan. Aksi ini menjadi pengingat bagi para pemangku kebijakan bahwa suara pekerja di Makassar tetap lantang dalam menuntut keadilan sosial dan kesejahteraan.(W/Sitti Nur Jannah)


