Kabiro Akademik, Yanuar Taufiq Menilai Positif Unjuk Rasa Mahasiswa ITSBM

Kabiro APAK, & Mahasiswa (Photo.Edt: Magfiratul Jannah) 

Sangpencerah.web.id|SELAYAR,—Kepala Biro Administrasi Perencanaan, Akademik dan Kemahasiswaan (APAK) ITSBM Selayar, Yanuar Taufiq, S.Sos., M.M menilai, Unjuk Rasa yang dilakukan oleh Mahasiswa ITSBM adalah hal yang biasa, proses pendewasaan dan peningkatan kualitas bagi Institusi Pendidikan. 

Dalam kehidupan demokrasi, unjuk rasa penyampaian pendapat, merupakan hal yang wajar dan memiliki peran penting dalam proses pembangunan sebuah institusi. Unjuk rasa bukan semata – mata bentuk perlawanan atau ketidak puasan, melainkan juga cerminan kepedulian terhadap keberlangsungan dan kemajuan suatu lembaga atau organisasi. 

Sebuah institusi yang baik tidak hanya membutuhkan pujian, tetapi juga kritik, masukan dan evaluasi dari berbagai pihak. Melalui unjuk rasa, masyarakat menyampaikan aspirasi harapan, bahkan kekecewaan terhadap kebijakan atau pelayanan yang dianggap belum maksimal. Dari sinilah sebuah institusi dapat melihat kekurangan yang selama ini mungkin tidak terlihat dari dalam. 

Lukman Hakim (Koordinasi Lapangan Aksi) 

Ketidakpuasan dan kekecewaan inilah yang dirasakan oleh sebagian Mahasiswa ITSBM Kabupaten kepulauan Selayar yang pada puncaknya mereka suarakan di depan kampus mereka pada Senin, 11 Mei 2026 lalu. Mahasiswa mengharapkan penegakan aturan akademik yang adil dan transparan tanpa adanya perlakukan khusus serta perbaikan dan peningkatan fasilitas penunjang kegiatan perkuliahan. 

Kepala Biro Administrasi Perencanaan, Akademik dan Kemahasiswaan (APAK) ITSBM Kabupaten kepulauan Selayar, Yanuar Taufiq, S.Sos., M.M menanggapi positif apa yang disuarakan oleh mahasiswa. “Menurut saya unjuk rasa yang dilakukan oleh mahasiswa ini, merupakan hal yang biasa. Yang mereka lakukan itu bukan hal yang baru, kita juga pernah aktif di kampus. Sehingga kita tidak kaget jika ada hal seperti itu,” ucapnya.

Suasana mediasi 

Lebih lanjut ia memaparkan bahwa pihak kampus telah menerima dan berdialog dengan pihak mahasiswa “Kami, pihak kampus menganggap masalah ini sudah selesai, kita sudah berdialog dengan pihak mahasiswa mengenai semua aspirasi yang mereka sampaikan. Kita sudah menjawabnya dan mereka juga telah menerimanya dengan baik. Jadi sudah tidak ada persoalan lagi,” paparnya. 

Yanuar Taufiq menjelaskan Darul Arkam Dasar (DAD) itu memang menjadi kewajiban bagi semua mahasiswa. Dan memang baru-baru ini ada beberapa Mahasiswa yang belum mengikuti DAD, namun itu sudah dibukakan DAD Khusus ketika mereka mau mengikuti KKN, begitu juga saat mengikuti PKKMB. 

Kegiatan ini dilakukan selama tiga hari, namuan ada beberapa mahasiswa yang tidak bisa mengikuti sampai selesai karena sakit. Jika mereka mengikuti dua hari akan dianggap lulus namun jika hanya bisa mengikuti satu hari saja, akan diberikan tugas tambahan sebagai syarat kelulusan. 

“Tugas ini berupa wawancara dengan minimal 12 tokoh masyarakat tentang tanggapannya mengenai ITSBM Selayar. Wawancara ini dalam bentuk video dan dipublish. Jadi ini syaratnya untuk bisa lulus di kegiatan ini atau jika tidak maka ia menunggu untuk ikut pada kegiatan berikutnya,” jelas Yanuar Taufiq.

Adapun mengenai kegiatan perkuliahan Yanuar Taufik mengungkapkan bahwa pada dasarnya tidak ada kendala, hanya saja memang ada keterbatasan fasilitas, apalagi ITSBM merupakan pergurusn tinggi baru. Tapi pihaknya terus berupaya untuk terus melakukan pembenahan. Mulai dari ruang kuliah yang masih kurang seiring dengan bertambahnya jumlah mahasiswa, sampai LCD yang digunakan saat dosen mengajar. 


“Sebenarnya setiap ruang kuliah itu sudah ada kipas angin. Namun memang ada beberapa kelas kita masih menggunakan kelas MTS, SMP dan SMA Muhammadiyah untuk perkuliahan sore dan malam hari. Untuk kelasnya kita memang baru ada empat ruangan yang digunakan mulai dari pagi sampai malam. tiga ruangan menggunakan kipas angin dan satu ruangan sudah menggunakan AC,” tambahnya. 

Untuk LCD sendiri juga masih terbatas, apalagi jika perkuliahan dilakukan di malam hari dimana perkuliahan bersamaan 14 kelas sementara LCD yang tersedia baru tujuh unit. 

“Jadi memang kita masih kurang LCD untuk dipakai oleh dosen saat mengajar di malam hari. Karena pada malah hari bersamaan 14 kelas berjalan,” jelasnya. Untuk fasilitas LCD ini, pihak kampus berjanji untuk mencukupkan sehingga proses pembelajaran di ruang kuliah bisa lebih maksimal lagi. 

Keterbatasan ruang perkuliahan ini selain karena ITSBM merupakan perguruan tinggi yang masih baru, juga karena kampus yang ditempati oleh ITSBM saat ini masih bersifat sementara. Saat ini pihaknya sedang membangun kampus baru yang dimana fasilitasnya akan jauh lebih baik dan maksimal. 

“Ya kita sedang membangun kampus baru di sebelah timurnya Matalalang, sekitar satu km dari jalan poros. Kita baru selesaikan pembayarannya, bangunan juga sudah ada namun belum bisa terpakai karena jalanan baru perintisan. Listrik juga baru dipasang begitu juga dengan air. Nah dikampus baru inilah kita akan maksimalkan semua fasilitas yang dibutuhkan. Tapi perlu kita pahami bahwa itu semua butuh proses dalam mewujudkannya,” jelasnya.

Unjuk rasa memang baik dalam menyampaikan aspirasi, namun demikian unjuk rasa harus dilakukan dengan cara yang santun dan bertanggungjawab. Menjaga ketertiban, menghormati hak orang lain, serta mengedepankan dialog adalah bagian penting agar tujuan penyampaian aspirasi dapat tercapai secara positif.

Muhammad Asrul : Ketua BEM. (Perwakilan Mahasiswa) Menyampaikan tuntutan

Kedepannya, lanjut Yanuar Taufiq untuk menampung aspirasi mahasiswa, pihaknya akan ada semacam coffee morning yang melibatkan pihak kampus, dosen, tokoh – tokoh mahasiswa seperti pengurus BEM, HIMPUNAN termasuk UKM yang sudah terbentuk untuk duduk bersama, yang akan dilakukan entah itu sekali sebulan atau sekali per tiga bulan, atau persemester. 

“Ini sudah disampikan kepada mahasiswa kemarin saat menerima aspirasi. Jadi sudah tidak ada masalah lagi,” tambahnya. 

Unjuk rasa bukanlah ancaman bagi institusi, melainkan bagian dari proses pendewasaan demokrasi dan peningkatan kualitas lembaga itu sendiri. Dengan adanya keterbukaan antara masyarakat kampus dan institusi maka kemajuan, keadilan, dan perubahan yang lebih baik akan lebih mudah diwujudkan. 

“Kita ingin Institusi ini bisa besar, terbuka dan professional menjalankan fungsinya sebagai perguruan tinggi. Saya sebagai Kepala Biro Akademik, tidak menanggapi negative apa yang dilakukan adik-adik mahasiswa kemarin. Malah saya bersukur karena ada masukan-masukan seperti itu,” tutupnya. (Salmawati/Jannah)

Lebih baru Lebih lama