![]() |
| Nayah Salsabila, Mahasiswa Jurusan Pendidikan Khusus Universitas Negeri Makassar (Photo: Istimewa) |
Sangpencerah.web.id|MAKASSAR – Di tengah hiruk-pikuk ruang publik yang seringkali abai, kesunyian bagi seorang anak tunarungu bukan sekadar tiadanya suara, melainkan dinding tebal yang memisahkan keinginan dengan pengertian. Menyadari celah sunyi tersebut, Nayah Salsabila, seorang mahasiswa Jurusan Pendidikan Khusus Universitas Negeri Makassar, mencoba meruntuhkan pembatas itu melalui sebuah karya sederhana namun sarat makna. Sebagai bagian dari tugas mata kuliah kewirausahaan, ia melahirkan sebuah inovasi yang ia beri nama Topi Komunikasi Visual.
Nayah melihat bahwa selama ini, dunia seolah menuntut kaum difabel untuk selalu menyesuaikan diri, sementara masyarakat luas masih gagap dalam memahami bahasa isyarat. Kondisi inilah yang kerap memenjarakan kemandirian anak-anak tunarungu saat berada di keramaian.
"Alasan saya membuat produk Topi Komunikasi Visual ini karena masih banyak anak tunarungu yang mengalami kesulitan saat ingin menyampaikan kebutuhan mereka di tempat umum. Tidak semua orang memahami bahasa isyarat sehingga komunikasi sering terhambat. Kondisi tersebut dapat membuat anak merasa bingung, kurang percaya diri, dan bergantung pada pendamping. Oleh karena itu, saya ingin menciptakan sebuah produk yang sederhana, praktis, dan mudah digunakan untuk membantu anak tunarungu berkomunikasi secara visual dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, saya juga ingin menggabungkan fungsi fashion dan edukasi agar produk ini tidak terlihat seperti alat terapi, sehingga anak tetap nyaman dan percaya diri saat menggunakannya," tutur Nayah dengan nada penuh empati.
Topi ini tidak hadir sebagai beban tambahan, melainkan sebagai kawan yang melekat pada keseharian. Manfaat dari produk ini adalah membantu anak tunarungu menyampaikan kebutuhan dasar seperti meminta bantuan, ingin makan, merasa sakit, atau ingin ke toilet dengan lebih cepat dan mudah. Di balik jahitan dan simbol-simbolnya, terdapat misi untuk meningkatkan kemandirian, rasa percaya diri, serta membantu anak lebih aktif berinteraksi di lingkungan sosial. Bagi orang tua dan guru, produk ini menjadi alat bantu komunikasi yang praktis dan aman digunakan di sekolah maupun di tempat umum. Lebih dari sekadar benda pakai, produk ini juga dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya komunikasi yang merangkul semua kalangan dan kepedulian terhadap penyandang disabilitas
Kehadiran Topi Komunikasi Visual ini membawa secercah cahaya bagi masa depan ruang-ruang publik yang lebih terbuka bagi siapa saja. Ada doa yang disematkan Nayah dalam setiap lekuk karyanya agar anak-anak ini tidak lagi merasa asing di tanah mereka sendiri.
"Harapan saya terhadap produk ini adalah agar Topi Komunikasi Visual dapat menjadi inovasi yang bermanfaat bagi anak tunarungu dalam kehidupan sehari-hari. Saya berharap produk ini dapat membantu anak menjadi lebih mandiri, percaya diri, dan merasa diterima di lingkungan masyarakat. Selain itu, saya berharap produk ini dapat dikenal lebih luas, digunakan oleh sekolah inklusi dan SLB, serta terus dikembangkan dengan desain dan simbol yang lebih variatif sesuai kebutuhan anak. Melalui produk ini, saya juga berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya menciptakan lingkungan yang inklusif, ramah, dan mendukung penyandang disabilitas," pungkasnya.
Melalui sentuhan kreativitas mahasiswa ini, kita diingatkan kembali bahwa komunikasi tidak melulu soal apa yang terdengar oleh telinga, melainkan tentang bagaimana setiap hati mampu tersambung dalam ruang gerak yang setara dan saling memahami. (Sitti Nur Jannah)


