![]() |
| A.M. Iqbal Parewangi saat menyampaikan kultum pada agenda Silaturahim Lintas Ormas Islam tingkat Provinsi Sulawesi Selatan di Masjid At-Tanwir PW Muhammadiyah Sulsel. |
Sangpencerah.web.id|MAKASSAR – Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, manusia kini hidup dalam dunia yang sangat terhubung secara teknologi. Namun ironisnya, hubungan antarmanusia justru kerap terasa semakin renggang. Perbedaan pandangan mudah berubah menjadi jarak, sementara ruang digital sering menghadirkan kedekatan semu tanpa kehangatan batin.
Dalam suasana seperti itu, silaturahim menjadi sesuatu yang semakin penting untuk dirawat. Bukan sekadar tradisi sosial, tetapi juga bagian dari nilai spiritual yang menjaga persaudaraan tetap hidup di tengah keberagaman.
Pada agenda Silaturahim Lintas Ormas Islam tingkat Provinsi Sulawesi Selatan, 4 Mei 2026, di Masjid At-Tanwir PW Muhammadiyah Sulsel, A.M. Iqbal Parewangi menyampaikan refleksi ilmiah dan spiritual mengenai makna silaturahim melalui pendekatan sains modern, khususnya fenomena quantum entanglement dalam fisika kuantum.
SILATURAHIM & FENOMENA QUANTUM ENTANGLEMENT
“Silaturahim bukan anugerah eksklusif untuk manusia. Alam pun mengekspresikan sunatullah ‘silaturahim semesta’. Bahkan dua atau lebih partikel yang pernah berinteraksi akan terus menjaga silaturahim diantara mereka, sampai kapanpun dan sejauh mana pun mereka terpisahkan.”
Dalam Islam, silaturahim bukan sekadar etika sosial, melainkan bagian dari bangunan iman. Ia menghubungkan takwa dengan relasi manusia, ibadah dengan kepedulian, dan kesalehan pribadi dengan kekuatan umat. Kesalehan harus menjalar menjadi kelembutan sosial, kepedulian keluarga, kesediaan menyambung hubungan yang renggang, dan keberanian menjaga persaudaraan ketika perbedaan pandangan mulai mengeras.
Dalam sains, kita dapat melakukan iqra’ membaca tanda-tanda kebesaran Allah melalui fenomena yang sangat menakjubkan dalam fisika modern: quantum entanglement. Fenomena ini tidak dimaksud sebagai “dalil ilmiah” atas silaturahim, tetapi sebagai inspirasi tafakur: bahwa alam semesta pada level terdalam ternyata tidak se-terpisah yang tampak oleh mata. Ada keterhubungan halus, ada relasi yang melampaui jarak, ada kenyataan bahwa sesuatu yang pernah berinteraksi tidak selalu benar-benar terputus begitu saja.
Dari sinilah catatan ini berangkat: jika partikel saja menyimpan jejak keterhubungan, betapa lebih agung jalinan silaturahim pada manusia yang diberi akal, hati, memori, amanah, dan ruh kehidupan.
MEMBACA “SILATURAHIM SEMESTA” DARI QUANTUM ENTANGLEMENT
Ketika dua atau lebih partikel berada dalam keadaan quantum entanglement (keterhubungan kuantum), pengukuran terhadap satu partikel berkorelasi sangat kuat dengan partikel lainnya, sekalipun keduanya dipisahkan jarak yang sangat jauh lintas galaksi, misalnya. Dalam “The Nobel Prize in Physics” (2022) dijelaskan bahwa dalam keadaan terjerat, dua partikel dapat “berperilaku seperti satu kesatuan” walaupun telah terpisah. Apa yang terjadi pada satu partikel menentukan keterkaitan hasil pengukuran pada partikel lainnya.
Namun, penting ditegaskan bahwa quantum entanglement bukan berarti manusia bisa mengirim pesan lebih cepat daripada cahaya sesuka hati. Ia menunjukkan korelasi kuantum yang luar biasa, bukan saluran komunikasi biasa yang melanggar hukum relativitas. Justru di sinilah keindahannya: alam tidak sedang bercerita secara murahan tentang “telepati fisika”, tetapi memperlihatkan bahwa realitas lebih dalam, lebih halus, dan lebih terhubung daripada asumsi sehari-hari kita.
Sejarah konsep ini menarik. Pada 1935, Albert Einstein, Boris Podolsky, dan Nathan Rosen mengajukan kritik terhadap mekanika kuantum melalui makalah yang kemudian dikenal sebagai paradoks EPR. Einstein tidak nyaman dengan gagasan bahwa dua sistem yang berjauhan dapat menunjukkan korelasi sekuat itu. Ia menyebut itu secara populer sebagai spooky action at a distance. Erwin Schrödinger kemudian menggunakan istilah “entanglement” untuk menggambarkan keadaan kuantum yang “terjalin” tersebut. Pada 1960-an, John Bell merumuskan ketaksamaan matematis, Bell inequalities untuk menguji apakah korelasi itu dapat dijelaskan oleh “variabel tersembunyi” klasik. Eksperimen John Clauser, Alain Aspect, dan Anton Zeilinger kemudian memperkuat prediksi mekanika kuantum dan menjadi tonggak lahirnya sains informasi kuantum modern.
Signifikansinya besar. Quantum entanglement bukan hanya tema filsafat fisika, melainkan fondasi bagi teknologi masa depan. Nobel Prize menyebut bahwa riset entanglement membuka jalan bagi komputer kuantum, jaringan kuantum, dan komunikasi terenkripsi kuantum. NIST dalam “Quantum Communications” (2026) juga menjelaskan bahwa komunikasi kuantum memanfaatkan sifat foton dan partikel subatomik, termasuk superposisi dan keadaan terjerat, untuk mengembangkan sistem komunikasi dan jaringan kuantum yang lebih kuat dan aman.
Dalam komputer kuantum, quantum entanglement bukan sekadar fenomena aneh, melainkan “mesin” utama yang memberikan kekuatan pemrosesan luar biasa. Salah satu contoh aplikasi praktisnya adalah eksponensialitas pemrosesan.
Dalam komputer klasik, bit hanya bisa bernilai “0 atau 1 secara bergantian”. Dalam komputer kuantum, superposisi memungkinkan satu qubit menjadi “0 dan 1 secara bersamaan”. Entanglement menghubungkan qubit-qubit tersebut. Jika Anda memiliki 2 qubit yang terikat, mereka bisa mewakili 4 keadaan sekaligus. Tetapi jika ada 300 qubit yang terikat, mereka bisa mewakili lebih banyak keadaan daripada jumlah atom di alam semesta teramati secara instan. Ini memungkinkan komputer kuantum melakukan kalkulasi paralel dalam skala yang mustahil bagi superkomputer tercepat sekalipun.
Dalam bidang kriptografi, prinsip-prinsip mekanika kuantum termasuk entanglement dipelajari untuk melindungi data. Dalam “What Is Quantum Cryptography?” (2025), NIST menjelaskan bahwa kriptografi kuantum menggunakan aturan mekanika kuantum untuk mengenkripsi, mengirim, dan membaca informasi secara lebih aman. Salah satu potensinya adalah mendeteksi upaya penyadapan karena pengukuran terhadap sistem kuantum dapat mengubah keadaan sistem itu sendiri. Dengan kata lain, entanglement bukan sekadar keajaiban laboratorium, ia menjadi bagian dari percakapan besar manusia tentang keamanan informasi, masa depan komputasi, dan struktur terdalam realitas.
Inspirasi reflektifnya: alam semesta tampaknya tidak menyukai keterputusan total. Pada level kuantum, yang pernah berinteraksi dapat tetap membawa jejak relasi. Pada level manusia, perjumpaan tidak pernah benar-benar netral. Satu nasihat dapat mengubah hidup seseorang. Satu maaf dapat menyembuhkan luka bertahun-tahun. Satu kunjungan dapat menghidupkan kembali keluarga yang lama renggang. Satu silaturahim lintas kelompok dapat mencegah konflik sosial yang lebih besar.
Jika partikel memiliki “korelasi kuantum”, manusia memiliki korelasi makna. Jika partikel terhubung oleh keadaan fisik, manusia terhubung oleh ingatan, amanah, nasab, iman, kasih sayang, sejarah, dan tujuan bersama. Maka silaturahim dapat dibaca sebagai “entanglement moral-spiritual”: ikatan yang tidak selalu terlihat, tetapi nyata dampaknya dalam kehidupan.
Tulisan tersebut menjadi pengingat bahwa di tengah dunia yang semakin cepat dan penuh perbedaan, manusia tetap membutuhkan ruang untuk saling menyambung hati. Silaturahim bukan hanya tradisi, tetapi juga jalan menjaga persaudaraan agar tidak mudah retak oleh ego, prasangka, maupun perbedaan pilihan.
Profil Singkat
A M Iqbal Parewangi merupakan pendidik dan penulis buku ilmiah populer. Ia merupakan alumni Pondok Pesantren Mu’allimin Yogyakarta dan alumnus Jurusan Fisika Universitas Gadjah Mada. Selain aktif dalam dunia pendidikan, ia juga dikenal menulis berbagai refleksi yang memadukan sains, filsafat, dan nilai-nilai keislaman. (Magfiratul Jannah)
Tags
Opini
