Ramli Karim dan Kegelisahan Nurani: Ketika Amar Ma’ruf Menjadi Sunyi

KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari sebagai tokoh besar Islam Indonesia yang mewariskan semangat dakwah, persatuan, pendidikan, dan perjuangan umat.

Sangpencerah.web.id | MAKASSAR — Kondisi moral dan mental pejabat publik kembali menjadi sorotan dalam sebuah tulisan yang mengangkat pentingnya peran ulama dalam menjaga arah kehidupan berbangsa dan bernegara. Tulisan tersebut menilai bahwa krisis etika publik tidak hanya dipengaruhi persoalan politik, tetapi juga melemahnya fungsi moral dalam ruang sosial dan pemerintahan.

Dalam tulisan berjudul “Ulama Tidur Pejabat Publik Gagal Mental & Moral”, Achmad Ramli Karim menyebut bahwa rusaknya moral suatu bangsa dapat terjadi ketika pejabat publik mengalami krisis mental dan moral, sementara ulama kehilangan keberanian untuk menyampaikan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar.

Menurutnya, istilah “gagal mental dan moral” merujuk pada kondisi ketika seseorang tidak lagi mampu bertindak sesuai nilai etika, norma sosial, maupun tanggung jawab moral yang seharusnya dijaga sebagai pejabat publik.

Ia menilai ulama memiliki peran penting sebagai pembimbing umat sekaligus penjaga moral bangsa. Karena itu, ulama diharapkan tidak hanya hadir dalam ruang seremonial, tetapi juga aktif memberikan nasihat, peringatan, serta kontrol moral terhadap penyelenggara negara.

“Ulama jangan lagi tidur terus, tetapi bangun dan bangkitlah tegakkan panji-panji amar ma’ruf nahi mungkar,” tulisnya.

Dalam pandangannya, amar ma’ruf nahi mungkar merupakan prinsip penting dalam ajaran Islam untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Prinsip tersebut dapat dilakukan melalui kekuasaan, lisan, tulisan, maupun sikap hati sesuai kemampuan masing-masing.

Tulisan itu juga menyoroti sejumlah peran strategis ulama dalam kehidupan berbangsa. Di antaranya sebagai pilar persatuan, benteng moral dan akhlak, penyebar Islam moderat, hingga mitra pemerintah dalam menjaga stabilitas sosial.

Secara historis, ulama disebut memiliki kontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dan perumusan dasar negara. Tokoh-tokoh seperti KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari dinilai menjadi bagian penting dalam perjalanan bangsa melalui gerakan pendidikan, dakwah, dan persatuan umat.

Selain itu, ulama juga dipandang memiliki pengaruh sosial yang kuat di tengah masyarakat. Dalam kondisi politik yang disebut semakin transaksional, kehadiran ulama dinilai penting untuk menjaga nilai-nilai kebangsaan dan etika publik agar tidak larut dalam kepentingan kelompok maupun oligarki kekuasaan.

Achmad Ramli Karim juga menyinggung kondisi lembaga politik yang menurutnya semakin lemah dalam menjalankan fungsi pengawasan akibat kompromi politik dan koalisi kekuasaan.

Di bagian akhir tulisannya, ia mengingatkan bahwa seseorang yang mengalami krisis mental dan moral biasanya menunjukkan perilaku antisosial, manipulatif, kurang empati, hingga mengabaikan norma sosial dan tanggung jawab publik.

Tulisan ini menjadi refleksi mengenai pentingnya menjaga integritas moral dalam kehidupan berbangsa, sekaligus mengingatkan kembali posisi ulama sebagai penjaga nilai, etika, dan persatuan sosial di tengah dinamika politik nasional. (Magfiratul Jannah)

Sumber: Blog Hikmah & Kebijakan



Lebih baru Lebih lama