![]() |
| Gambar Ilustrasi |
Ketika saya membaca berita Porostengah.id berjudul "IMM Selayar Tagih Klarifikasi Terbuka PC IMM Makassar, Peserta DAD Akbar Juga Diminta Angkat Bicara", perasaan pertama yang muncul bukanlah keinginan mencari siapa yang benar atau siapa yang salah. Yang muncul justru rasa sedih, prihatin, sekaligus terkejut.
Saya membaca dan menyaksikan bagaimana dinamika kader muda Muhammadiyah seolah terjebak dalam polemik administrasi yang berkepanjangan. Perdebatan mengenai surat rekomendasi, kewenangan struktural, hingga tuntutan klarifikasi terbuka lebih mendominasi ruang publik dibandingkan diskusi mengenai misi utama pengkaderan, yaitu membina dan melahirkan kader Persyarikatan.
Disini saya merasakan sebuah ironi.
Darul Arqam Dasar (DAD) adalah pengkaderan tingkat dasar, pintu pertama seorang mahasiswa mengenal dan memasuki kehidupan Muhammadiyah melalui IMM. Seharusnya, ruang ini dipenuhi semangat dakwah, pembinaan, dialog, dan pencarian ilmu. Namun yang tampak dalam pemberitaan justru tarik-menarik tafsir administratif yang berpotensi mengaburkan hakikat pengkaderan itu sendiri.
Sebagai warga Persyarikatan, saya tidak sedang mengkritik satu pimpinan atau membela pimpinan yang lain. Saya justru ingin mengajak seluruh keluarga besar Muhammadiyah untuk bertanya: apakah kita sedang membangun budaya pengkaderan yang mencerahkan, atau tanpa disadari sedang membangun birokratisasi pengkaderan mahasiswa?
Kepribadian Muhammadiyah mengajarkan untuk memperbanyak kawan, bersifat lapang dada, luas pandangan, mengedepankan musyawarah, serta beramal bagi kemaslahatan umat. Nilai-nilai tersebut seharusnya menjadi ruh setiap proses pengkaderan. Administrasi memang penting, tetapi ia hanyalah instrumen untuk menjaga ketertiban organisasi, bukan tembok yang menghalangi lahirnya kader baru.
Saya membayangkan seorang mahasiswa yang datang dengan semangat ingin belajar, mengenal Muhammadiyah, dan mengikuti Darul Arqam Dasar. Jika yang pertama kali ia saksikan adalah polemik surat, kewenangan, dan konflik struktural yang diperdebatkan di ruang publik, kesan apa yang akan ia bawa tentang Muhammadiyah?
Kekhawatiran saya sederhana tetapi mendasar. Jangan sampai sejak awal kita membangun budaya yang lebih menghargai prosedur daripada pembinaan, lebih sibuk menjaga administrasi daripada memperluas dakwah, dan lebih cepat memperdebatkan syarat daripada membimbing calon kader.
Jika kecenderungan ini terus berkembang, maka yang dipertaruhkan bukan hanya status seorang peserta DAD. Yang dipertaruhkan adalah kepercayaan generasi muda terhadap model pengkaderan Muhammadiyah.
Muhammadiyah tumbuh besar bukan karena kemampuannya memperbanyak persyaratan, tetapi karena keberhasilannya membuka pintu pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan bagi siapa saja yang ingin berjuang. Semangat itulah yang semestinya tetap hidup dalam setiap proses kaderisasi IMM.
Karena itu, polemik ini hendaknya menjadi momentum untuk kembali kepada ruh Kepribadian Muhammadiyah: menjadikan administrasi sebagai alat, musyawarah sebagai jalan, dan pembinaan sebagai tujuan. Sebab pada akhirnya, pertanyaan yang harus dijawab bersama bukanlah siapa yang menang dalam polemik ini, melainkan: jika pintu kaderisasi dijaga birokrasi, siapa yang akan melanjutkan dakwah Muhammadiyah?
Penulis: Fahmiy Rahman, Alumni Pesantren Muhammadiyah Darul Arqam Gombara, Pernah ikut kader tarjih Mubammadiyah, pernah diamanahkan di WAKIL ketua PC Muhammadiyah Bontobangung . Mantan Sekertaris Majelis Tarjih. PDM Kota Makassar.
Ust. Fahmi Rahman Gani (juga dikenal sebagai Fahmiy Rahman) adalah alumnus Pondok Pesantren Muhammadiyah Darul Arqam Gombara, Makassar, angkatan 1991. Beliau dikenal sebagai seorang tokoh pendidik, mantan aktivis, serta tokoh masyarakat yang pernah menjabat sebagai Kepala Desa Kalepadang, Kecamatan Bontoharu, Kabupaten Kepulauan Selayar.
profil lengkap serta rekam jejak Fahmi Rahman Gani:
Latar Belakang Pendidikan Pondok Pesantren: Nyantri di Pondok Pesantren Muhammadiyah Darul Arqam Gombara (1985–1991).Pendidikan Tinggi: Lulus dari Jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum, Fakultas Syariah IAIN Alauddin Makassar (1991).Pendidikan Non-Formal:Mengikuti Pendidikan Kader Tarjih Muhammadiyah di Masjid Takmirul Masajid Makassar (1991).
Belajar Bahasa Arab di LIPIA Jakarta (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab), di bawah naungan Imam Muhammad bin Saud Islamic University (1991–1993).
Mengikuti Training of Trainer (TOT) Penanggulangan Terorisme khusus bagi santri.Rekam Jejak Organisasi & KarierAktivis Mahasiswa: Aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Makassar dan pernah diamanahkan sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) di Fakultas Syariah IAIN Alauddin.
Dunia Pendidikan: Pernah mengabdi sebagai tenaga pengajar Bahasa Arab dan Studi Islam di Pondok Pesantren IMMIM Makassar. Beliau juga berkontribusi dalam riset manajemen mutu pembelajaran di almamaternya, SMP Darul Arqam Gombara.
Karier Pemerintahan: Pernah merantau ke Jakarta dan mengabdi di Sekretariat Jenderal DPR RI.Struktur Muhammadiyah: Pernah diamanahkan sebagai Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kepulauan Selayar (periode 2014).Kepemimpinan Publik (Kepala Desa)Pada tahun 2016, Fahmi Rahman Gani memutuskan pulang ke kampung halamannya untuk membangun daerah. Beliau memenangkan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak dan dilantik menjadi Kepala Desa Kalepadang. Kepemimpinannya saat itu berfokus pada pengentasan kemiskinan, peningkatan mutu sumber daya manusia, serta penguatan kesejahteraan masyarakat desa yang berbasis pada nilai-nilai agama dan budaya lokal.
