Menolak Pragmatisme Politik: Refleksi 60 Tahun KAHMI dan Urat Nadi Perkaderan

 

Sangpencerah.web.id|SELAYAR,—Hari ini, Korps Alumni HMI (KAHMI) genap berusia 60 tahun. KAHMI lahir di Solo pada momentum Kongres HMI VIII, 17 September 1966, sebuah kongres yang menurut cerita A. Dahlan Ranuwiharjo (Pakde Dahlan) di rumahnya daerah Ciledug sekitar 30 tahun silam, berlangsung sangat heroik.

Kongres VIII Solo adalah saat-saat di mana HMI menunjukkan digdayanya sebagai kekuatan muda Islam yang menjaga moralitas Pancasila pasca-G30S/PKI 1965. Di sinilah Nurcholish Madjid (Cak Nur) terpilih untuk pertama kalinya sebagai Ketua Umum PB HMI periode 1966–1969. Keunikan kongres ini, seluruh peserta dari berbagai pelosok Indonesia diinapkan di rumah-rumah warga setempat agar berbaur langsung dengan masyarakat.

Cak Nur memenangkan pemilihan setelah menyampaikan visi dan misi yang sangat mengesankan. Inti gagasannya berfokus pada penegasan tauhid, modernisasi pemikiran, serta penguatan komitmen keislaman dan keindonesiaan. Penyampaian gagasan yang rasional namun tetap menyentuh spiritualitas ini berhasil menyatukan faksi-faksi dalam kongres dan mengukuhkan Cak Nur sebagai figur intelektual muda yang terpilih secara aklamasi.


Pemikiran-pemikiran pada fase inilah yang kelak dirumuskan menjadi Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI pada Kongres IX di Malang, kongres di mana Cak Nur kembali terpilih untuk periode kedua (1969–1971), yang ia sebut sendiri sebagai sebuah "kecelakaan sejarah."

Kemenangan Ide, Bukan Pragmatisme

Sengaja kilas sejarah ini dinukil kembali sehubungan dengan akan dilangsungkannya Kongres XXXIII HMI di Lampung di penghujung 2026. Ada pesan penting Cak Nur yang perlu disadari oleh adik-adik HMI, terutama pengurus PB HMI: kemenangan HMI (termasuk kemenangan Islam) adalah kemenangan ide, bukan pragmatisme politik dan kesenangan sementara.

"Kita harus menunda kesenangan sementara untuk meraih kesenangan jangka panjang nan abadi."

Urat Nadi Perkaderan

Secara otomatis, semua mantan kader HMI adalah alumni HMI. Sedangkan secara jam'iyah, seluruh alumni terhimpun dalam KAHMI. Usia 60 tahun telah mengantar keluarga besar ini melalui perjalanan panjang. Keberhasilan atau kegagalan setiap alumni tetap mencatatkan namanya sebagai bagian dari keluarga besar, yang berarti harus menjadi bagian dari simpati dan empati bersama, seperti satu bangunan yang saling menguatkan.

Setiap kader dan alumni terikat pada tujuan HMI: terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam serta bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.

Dari tujuan tersebut, terpancar 5 Kualitas Insan Cita:

 1. Insan akademis

 2. Pencipta

 3. Pengabdi

 4. Bernafaskan Islam

 5. Bertanggung jawab

KAHMI telah berkhidmat melewati berbagai era: revolusi fisik, Demokrasi Terpimpin Orde Lama, rezim represif Orde Baru, hingga hampir tiga dekade era Reformasi. KAHMI ada di mana-mana dan disegani secara intelektual, jaringan, maupun soliditas.

Anehnya, semua itu tidak didesain oleh pengorganisasian yang rapi. KAHMI tidak memiliki database anggota, roadmap, atau distribusi kader yang tersentralisasi secara kaku. Keberadaan alumni di setiap lini kehidupan berbangsa lebih merupakan hasil kreativitas pribadi, ada yang memakai jurus merpati, elang, gagak, bangau, atau bahkan kera mabok.

Namun, mereka memiliki satu kesamaan inti: urat nadi perkaderan yang sama. Yang bajingan dan yang saleh, semuanya akan tegak penuh khidmat saat menyanyikan Hymne HMI. 


Bagian 1

(Di kutip dari Rorano Sore. Ochen)

Lebih baru Lebih lama