
Sangpencerah.web.id|SELAYAR,—Kebijakan PT Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry (Persero) Cabang Selayar yang melarang pengangkutan truk bermuatan arang dan kopra di lintasan Pelabuhan Pamatata–Bira bener-bener memicu gelombang keresahan di kalangan warga lokal, nih.
Ribuan pekebun kelapa, pelaku usaha arang batok, sampai pengusaha lokal sekarang dibuat pusing karena jalur distribusi komoditas utama yang selama ini jadi penyambung hidup mereka terancam mandek total.
Kebijakan sepihak ini sebenarnya mengacu pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 16 Tahun 2021 tentang Tata Cara Penanganan dan Pengangkutan Barang Berbahaya di Pelabuhan. Regulasi itu emang ketat banget mengatur soal klasifikasi barang berbahaya, prosedur penanganan, pemuatan, pemisahan muatan, sampai standar keselamatan kapal saat membawa logistik yang punya potensi bahaya selama pelayaran.
Penerapan aturan ini makin diperketat setelah sempat ada insiden kebakaran satu unit truk bermuatan arang tepat di area pintu masuk Pelabuhan Pamatata pada 30 Juni 2026 kemarin. Kejadian apes itulah yang bikin pihak operator penyeberangan langsung pasang badan dan memperketat standar keselamatan sesuai aturan baku.
Tapi di sisi lain, imbas ekonominya gak main-main. Distribusi arang dan kopra yang mau dikirim ke deretan perusahaan penampung di Kawasan Industri Makassar (KIMA) praktis tersendat. Kondisi ini ditakutkan bakal merusak rantai pasok, bikin pendapatan warga terjun bebas, sekaligus mengancam napas bisnis UMKM yang selama ini bergantung penuh pada jalur penyeberangan Selayar–Bira.
Di tengah situasi yang makin pelik ini, tokoh pemerhati pembangunan daerah, Fadly Syarif, langsung muncul membawa angin segar. Beliau menawarkan solusi alternatif yang cukup berani, yaitu membuka jalur pengiriman komoditas langsung dari Selayar menuju Surabaya pakai armada kapal kargo KM Samudera Pasific.
Menurut Fadly, ide gokil ini muncul setelah dirinya gercep melakukan komunikasi via telepon dengan Boss Eddy, sang pemilik KM Samudera Pasific. Dari obrolan itu, didapatkan kepastian kalau kapal tersebut siap di-booking lewat sistem kontrak dengan kapasitas muatan jumbo sekitar 1.000 ton untuk sekali pelayaran.
"Ini bukan sekadar solusi sementara, tetapi peluang membuka jalur distribusi baru bagi komoditas unggulan Selayar. Jika petani, pekebun, dan pelaku usaha dapat bersatu memenuhi kapasitas muatan kapal, maka pengiriman tidak lagi harus bergantung pada Makassar. Kita bisa mengirim langsung ke Surabaya sehingga lebih efisien dan berpotensi memberikan nilai ekonomi yang lebih baik," kata Fadly.
Beliau menilai momentum ini justru bisa jadi titik balik buat mengubah pola distribusi hasil bumi Selayar ke pasar yang jauh lebih luas. Selain memutus ketergantungan logistik lewat Makassar, skema ini dinilai ampuh menaikkan daya saing komoditas lokal kalau semua pihak mau kompak bekerja sama.
Makanya, Fadly mengajak jajaran pemerintah daerah, pelaku usaha, kelompok tani, koperasi, sampai perusahaan pelayaran buat segera duduk bareng, menyamakan persepsi, dan menyusun skema kerja sama biar pengiriman langsung rute Selayar–Surabaya ini bisa segera terealisasi.
"Yang dibutuhkan sekarang adalah kesepakatan bersama. Apabila volume muatan dapat dipenuhi secara kolektif, saya optimistis jalur pelayaran ini dapat menjadi solusi jangka panjang yang tetap menghormati regulasi keselamatan pelayaran sekaligus menjaga roda perekonomian masyarakat Selayar tetap bergerak," ujarnya.
Bagi Fadly, keselamatan pelayaran emang tetep nomor satu dan gak bisa ditawar. Tapi di waktu yang sama, warga juga butuh jalan keluar yang nyata biar dapurnya tetep ngebul. Makanya, pendekatan kolaboratif kayak gini dinilai jadi jalan tengah paling logis buat menjembatani aturan keselamatan laut dengan keberlangsungan hidup masyarakat Selayar. (Sumber: Fadly/Edt. Sitti Nur Jannah)