Mendulang Pahala Jariyah Dari Polres Cup, Bupati Cup, dan Dandim Cup

Sangpencerah.web.id|SELAYAR,—Euforia sepak bola senantiasa menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat Kabupaten Kepulauan Selayar. Sebagai satu-satunya hiburan rakyat yang paling diminati di Tanah Nekara ini, atmosfer turnamen selalu berhasil menyedot perhatian massa. Terbukti, pada Selasa, 1 Juli 2026, tidak kurang dari 13.000 suporter memadati Lapangan Pemuda. Benteng, hingga meluber ke jalan raya. Antusiasme yang begitu meledak bahkan memaksa sebagian warga mencari cara alternatif demi bisa menyaksikan jalannya laga; ada penonton yang rela naik dan berdiri memadati dak rumah-rumah warga sekitar, hingga memanfaatkan area rooftop atau dak gedung kantor yang menghadap langsung ke arena pertandingan.

Mereka semua menjadi saksi hidup dari sebuah sejarah baru saat Satria Bhayangkara FC berhasil menumbangkan langganan juara sejak era klasik, Gelora Utama FC, yang sebelumnya juga sukses membungkam kampiun tahun lalu, Tabang Putra FC. Kemenangan dramatis lewat adu penalti yang menegangkan ini mengantarkan Satria Bhayangkara FC, yang juga bertindak sebagai tuan rumah, mencatatkan diri sebagai Champions Polres Cup II tahun ini.

Pergelaran akbar sepak bola level kabupaten ini terbilang sukses dihelat. Walau sempat diwarnai insiden kecil antara pemain dan suporter, riak tersebut berhasil diredam dengan cepat dan bijak.

Di luar lapangan, berkah turnamen ini mengalir nyata bagi para pelaku ekonomi bawah. Event ini mampu menghidupkan sektor UMKM yang ikut serta meramaikan wisata kuliner dari sore hingga malam hari di pinggiran Lapangan Pemuda. Benteng, Namun, yang paling memikat dari turnamen kali ini bukanlah sekadar skor akhir atau perputaran rupiah, melainkan harmoni antara sapaan hobi dan panggilan Ilahi.

Pemandangan sejuk terlihat di Masjid Rahmatan Lil Alamin yang mendadak padat jemaah setiap waktu Ashar tiba. Banyak pemain, suporter, dan ofisial yang memilih mendahulukan sholat berjamaah sebelum bertanding atau menonton, kecuali mereka yang memang sudah terlanjur berada di tengah lapangan. 

Tren positif ini sejatinya sangat sejalan dengan program Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar di bawah kepemimpinan Bupati H. Natsir Ali dan Wakil Bupati Drs. Muchtar, M.M., yang selama ini gencar menganjurkan gerakan sholat berjamaah tepat waktu dan mengutamakan ibadah bagi para pegawai negeri sipil. 

Kegigihan panitia untuk menjeda permainan ketika adzan berkumandang dan menghentikan laga sebelum Maghrib menjadi potret nyata bagaimana nilai religius daerah bersinergi dengan dunia olahraga. Di sini, adzan tidak hanya menjadi penanda waktu, tetapi juga komando spiritual untuk menjeda euforia duniawi.

Legenda hidup sepak bola Selayar, Ruslan Musafir Hadi, memberikan catatan mendalam untuk masa depan olahraga di Bumi Tanadoang. Beliau berharap ke depannya adzan bukan sekadar momen berhenti sejenak dari bermain bola, melainkan menjadi pemanggil bagi seluruh pemain, panitia, suporter, hingga pedagang untuk segera melangkah ke masjid. Terlebih, Lapangan Pemuda. Benteng, memiliki keunikan geografis yang religius karena diapit oleh delapan unit masjid dalam radius satu kilometer. Karakteristik ini menunjukkan bahwa Lapangan Pemuda sejatinya adalah halaman masjid, sebuah pemandangan langka yang sulit ditemukan di daerah lain.

Menatap ke depan, ajang bergengsi berikutnya seperti Dandim Cup dan Bupati Cup diharapkan dapat digelar dengan konsep yang jauh lebih maksimal dan bernilai pahala jariyah. Untuk mewujudkan hal tersebut, sudah saatnya dilakukan pembenahan fasilitas fisik di Lapangan Pemuda. Benteng, khususnya optimalisasi sistem pencahayaan stadion yang mumpuni serta penyediaan fasilitas tempat duduk atau tribun yang layak bagi penonton.

Selain fasilitas sepak bola, penataan kawasan olahraga secara terpadu juga mendesak untuk diperhatikan. Ke depan, diperlukan manajemen tata ruang lapangan yang lebih bijak agar keberadaan tenda-tenda UMKM kuliner diatur secara rapi dan terpusat di zona khusus. Penataan ini penting agar tidak mengokupasi atau mengganggu area fasilitas olahraga lainnya, seperti lapangan basket, area senam, serta tempat pull-up

Dengan zonasi yang jelas, aktivitas masyarakat yang ingin berolahraga lain tidak akan terhambat oleh hiruk-pikuk perdagangan, sehingga geliat ekonomi dan pola hidup sehat masyarakat dapat berjalan beriringan tanpa saling mengganggu.


Dengan infrastruktur yang memadai, skenario jadwal pertandingan ke depan bisa dirancang lebih fleksibel, misalnya dimulai pukul 15.45 WITA setelah sholat Ashar lalu dijeda, dan dilanjutkan kembali pada malam hari setelah waktu Isya. Melalui skema ini, pelaksanaan sholat berjamaah bagi seluruh pihak dapat ditegakkan dengan jauh lebih tepat waktu tanpa tergesa-gesa. 

Di sisi lain, pelaksanaan laga pada malam hari otomatis akan membuat perputaran ekonomi sektor UMKM kuliner di sekitar lapangan menjadi jauh lebih hidup dan menguntungkan. Pada akhirnya, lapangan hijau Selayar tidak hanya melahirkan prestasi olahraga yang kompetitif, tetapi juga mendulang keberkahan dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.



Lebih baru Lebih lama