Sangpencerah.web.id|SELAYAR,—Dosen berbicara di depan kelas, namun suaranya jatuh ke lantai dan mati sebelum sempat diserap oleh pendengarnya. Di sini, di ruang yang menyesakkan ini, kita sedang melakukan sandiwara besar tentang pendidikan. Berpura pura belajar sementara nalar kritis digiring ke pembuangan. Tulisan ini adalah sebuah catatan keresahan dari Mahasiswa Kepualauan.
Makam di Balik Bangku Kuliah
Oleh: Sitti Nur Jannah
Sebelum gerbang kampus ini benar-benar terlewati, isi kepalaku adalah arena bertarung. Aku membayangkan ruang kuliah sebagai pasar malam bagi gagasan yang bertabrakan; tempat di mana argumen diuji, sanggahan dilemparkan dengan binar mata hidup, dan jam pengerjaan tugas adalah ritual suci untuk menantang batas kemampuan diri.
Aku datang dengan pasokan energi melimpah, siap memantik sekaligus dibakar diskusi. Keinginan terbesarku adalah menjadi manusia bebas yang menolak tunduk pada kemalasan berpikir. Namun, tepat di muka pintu kelas, ekspektasi itu runtuh. Aku teringat bisikan Friedrich Nietzsche tentang bahaya herd mentality yaitu mentalitas kawanan. Nietzsche pernah memperingatkan betapa mengerikannya ketika manusia kehilangan individualitas lalu melebur menjadi sekadar domba penurut yang bergerak seragam dalam kenyamanan tanpa nalar.
Nyatanya, realitas menamparku tanpa suara.
Jam dinding berdetik lebih nyaring daripada suara mahasiswa. Dosen menghela nafas untuk ketiga kalinya hari itu. Di pojok kanan, aku menahan tangan agar tidak mengacung lagi. Bukan karena tidak tahu jawabannya, melainkan karena lelah menjadi satu-satunya orang yang dianggap 'berisik' di tempat yang bersandiwara seolah hidup ini.
Di sekelilingku, tatapan tertunduk tipis. Layar gawai yang redup di bawah kolong meja mencerminkan garis wajah kosong. Ketika sebuah laporan kelompok dipresentasikan, suasananya lebih mirip pembacaan riwayat hidup pada upacara pemakaman: datar, monoton, dan dibacakan seolah huruf di salindia adalah beban yang ingin segera diletakkan. Tidak ada interupsi maupun riak. Pertanyaan dari audiens terasa seperti formalitas yang dipaksakan demi menggugurkan kewajiban presensi. "Apakah ada yang kurang jelas?" tanya pemakalah. Jawabannya adalah keheningan yang sepakat.
Ironinya, kesunyian ini terasa begitu munafik. Di dalam kelas, mereka lumpuh kata. Namun di luar sana, panggung akademik sedang mempertontonkan lelucon mahal. Kita disuguhi berita tentang oknum Mahasiswa yang mendadak garang di jalanan, berteriak di balik pagar pembatas, bukan karena dadanya terbakar oleh ketidakadilan, melainkan karena kantongnya telah diisi kepentingan politik tertentu.
Kasus demonstrasi sewaan yang sempat heboh kemarin menjadi tamparan keras di muka kita semua. Idealisme hari ini ternyata punya tarif, dan jas almamater bisa disewa layaknya kostum mainan.
Melihat kerusakan ini, Jürgen Habermas mungkin akan menangis di sudut ruangan. Filsuf Barat itu menghabiskan hidupnya merumuskan tindakan komunikatif dan ruang publik yang bebas dari distorsi kekuasaan serta uang. Namun di sini, panggung aspirasi telah bermutasi menjadi komoditas pasar. Ketika suara lantang di jalanan digerakkan oleh transaksi, di saat itulah komunikasi murni telah mati.
Krisis moral ini juga seolah membenarkan ketakutan yang pernah ditulis oleh sosiolog sekaligus filsuf Islam, Ibnu Khaldun, dalam mahakaryanya Muqaddimah. Beliau menjelaskan bahwa runtuhnya peradaban selalu dimulai dari rapuhnya Asabiyah, sebuah ikatan solidaritas sosial yang tulus. Ketika mahasiswa bergerak bukan lagi karena panggilan nurani kebersamaan, melainkan didorong nafsu materi serta kemewahan instan, maka struktur peradaban ilmiah sedang melapuk dari dalam.
Kondisi tersebut mengingatkanku pada keresahan Ali Shariati, pemikir Islam modern yang dengan sinis membedakan antara intelektual bayaran dengan Roushanfekr atau jiwa tercerahkan. Shariati menyindir bahwa kepintaran tanpa kesadaran sosial hanyalah kepalsuan; akademisi yang menjual suaranya demi uang tidak lebih dari sekadar keledai memikul tumpukan buku, bergerak tanpa arah kecuali ke mana sang pemilik tali mengekang lehernya.
Betapa jauhnya kita telah tersesat jika menengok spion sejarah. Dulu, pergerakan mahasiswa adalah poros yang ditakuti penguasa karena kemurniannya. Mereka adalah thinkers sekaligus doers, manusia yang membaca buku dengan rakus saat malam, berdiskusi hingga fajar, dan turun ke jalan tanpa pamrih demi membela hak rakyat yang dirampas. Suara mereka murni, lahir dari gelisah yang dikunyah dalam ruang kuliah yang hidup.
Kini, jangankan menggerakkan massa, menyuarakan kebenaran di dalam lingkup kampus sendiri pun rasanya seperti mendaki tebing rapuh. Setiap kali aku mencoba mengangkat keluhan, mempertanyakan kebijakan timpang, atau sekadar menyuarakan aspirasi jujur, tembok birokrasi dan ketakutan kolektif selalu siap membungkam. Aku selalu membentur kesulitan. Ada sistem yang secara halus berbisik agar aku tetap patuh, membisu, dan menjadi angka manis di dalam buku presensi. Bersikap kritis di sini seperti membawa barang haram.
Dan racun itu akhirnya merayap ke dalam nadiku sendiri.
Perlahan, aku mulai menurunkan standar. Mengacungkan tangan di tengah kerumunan apatis membuatku merasa seperti badut yang salah panggung.
Minggu lalu, aku merampungkan makalah hanya beberapa jam sebelum tenggat waktu, sebuah kebiasaan yang dulunya kutolak mentah-mentah. Saat giliranku maju ke depan, aku tidak lagi peduli apakah penjelasanku memantik rasa ingin tahu mereka atau tidak. Aku berbicara pada dinding, pada kursi kosong, pada pikiran yang sedang berkelana entah di mana. Aku mempresentasikan hasil kerja dengan seadanya. Toh, hasilnya sama saja: ruangan akan tetap hening.
Hari ini, almamaterku masih tergantung di balik pintu kamar. Aku menatapnya dengan rasa asing. Di luar, matahari pagi mulai meninggi, menandakan jam kuliah pertama akan segera dimulai. Namun, kasur ini mendadak terasa lebih rasional daripada bangku di pojok kanan kelas itu.
Untuk apa aku datang? Untuk menonton simulasi kaum yang berpura-pura kuliah? Atau menjadi bagian dari generasi yang berisik hanya saat ada rupiah, tapi bisu ketika kebenaran butuh pembelaan?
Aku membalikkan badan dan menarik selimut lebih tinggi, membiarkan keheningan di luar sana kembali menang. Namun, di balik mata yang terpejam, aku mendapati diriku terus merenungkan ke mana lagi masa depan bangsa akan dilahirkan jika ruang kelas saja sudah menjelma menjadi kuburan bagi gagasan, serta apakah mereka yang membaca tulisan ini sebenarnya sadar bahwa diri mereka mungkin sedang memegang cangkul untuk menggali makam akademis itu sendiri, atau justru hanya menjadi penonton yang diam-diam menikmati kematiannya?



