Sangpencerah.web.id|SELAYAR,—Bagi sebagian orang, rintik hujan dan angin kencang yang mengguyur Kabupaten Kepulauan Selayar pada Kamis, 25 Juni 2026, mungkin menjadi alasan paling logis untuk mendekam di rumah. Namun tidak bagi segelintir jiwa yang telanjur jatuh cinta pada kata. Hari itu, di tengah cuaca yang tidak bersahabat, sebuah riak kecil perubahan sedang diupayakan di Ruang Diklat MAN Selayar.
Sebagai seorang mahasiswa yang sehari-hari menggeluti dunia jurnalisme, saya sering melihat bagaimana sebuah berita bergulir. Namun, momen kali ini terasa sangat berbeda karena saya tidak hanya sedang meliput, melainkan sedang menyaksikan langsung sepotong sejarah lokal sedang dirajut melalui Training of Writing and Recruitment (ToWR) Forum Lingkar Pena (FLP).
Di atas kertas, sebenarnya ada sekitar 15 orang peserta yang telah terdaftar dan menyatakan diri siap bergabung dalam barisan calon penulis baru ini. Namun, alam rupanya punya cerita lain hari itu. Badai dan cuaca buruk khas kepulauan memaksa mayoritas peserta tertahan di rumah mereka masing-masing, hingga pada akhirnya hanya ada delapan orang peserta saja yang berhasil menembus cuaca ekstrem dan duduk di ruang luring. Kursi-kursi di dalam ruangan memang banyak yang kosong, tetapi atmosfer di kelas itu justru terasa sangat penuh oleh energi yang meluap.
Uniknya, formasi mini ini didominasi oleh para guru, para pahlawan tanpa tanda jasa yang punya visi mulia untuk menularkan virus menulis ke anak didik mereka, serta saya sendiri, satu-satunya mahasiswa yang hadir di sana. Bait pantun yang sempat disebarkan panitia sebelum acara,
"Berangkat pagi pakai perahu layar, membelah ombak arus panjang. Sebentar lagi FLP hadir di Selayar, semoga lahir penulis penuh juang."
Seolah menemukan pembenaran nyatanya hari itu karena kami yang hadir adalah para pengarung ombak yang menolak takluk pada cuaca demi menjemput ilmu.
Melihat komposisi peserta yang hadir, ada satu kesimpulan besar yang mengusik benak saya, yaitu Selayar sebenarnya sedang sangat haus akan ruang-ruang pelatihan menulis. Selama ini, akses terhadap pelatihan literasi yang intensif dan terstruktur di daerah kepulauan seperti kami terbilang minim. Para guru membutuhkan ruang seperti ini untuk meningkatkan kompetensi profesional mereka dalam menulis, sementara generasi muda seperti mahasiswa membutuhkan wadah untuk menajamkan nalar kritis lewat tulisan. Kehadiran cikal bakal FLP Cabang Selayar ini bagaikan oase di tengah padang gersang bagi kami semua.
Dahaga literasi itu perlahan terobati dengan sangat baik. Kami disuguhi materi luring yang intim mengenai teknik menulis cerpen, puisi, hingga esai. Ruang kelas menjadi saksi bagaimana materi kepenulisan dibedah secara mendalam bersama para tokoh literasi hebat. Kami menerima materi berbobot dari para senior FLP seperti Firmansyah atau yang lebih dikenal Anca' Penulis Biografi AGH. Hayyung, sekaligus memperjuangkannya menjadi Pahlawan Nasional dari Selayar. Dia hadir memotivasi peserta bahwa; "Setiap Orang Bisa Menulis". Juga Fahruddin Achmad, ST. Tak hanya itu, lewat layar digital yang terhubung secara daring, Dr. Yanuardi Syukur, S.Sos, M.Si, seorang antropolog dan penulis produktif yang telah melahirkan lebih dari 200 buku, turut membedah "Teknik Menulis Esai" dengan begitu bernas. Ketua FLP Sulsel periode 2025-2027, Adibah L. Najmy, MH, juga hadir membawakan materi penting mengenai "FLP, Dakwah & Kepenulisan".
Di tengah-tengah penjelasan materi, sebuah perasaan takjub perlahan menyergap benak saya. Hal-hal yang selama ini menjadi pertanyaan besar dan mengganjal di kepala mengenai dunia kepenulisan, seketika terjawab sudah. Jujur saja, awalnya saya sempat berpikir bahwa pelatihan ini akan sama dengan pelatihan-pelatihan lain pada umumnya, yang cenderung monoton, kaku, dan hanya berfokus pada teori materi yang dibawa saja. Namun, dugaan saya keliru besar. ToWR FLP ini justru mendobrak kejenuhan itu dengan memberikan penjelasan langsung lewat karya, sekaligus membedah tekniknya secara gamblang lewat praktik langsung di tempat. Pendekatan interaktif seperti inilah yang membuat seluruh materi menjadi jauh lebih mudah dimengerti dan meresap ke dalam pemikiran kami.
Dari ruang kelas kecil di MAN Selayar, kami belajar bahwa kuantitas bukanlah penentu segalanya. Delapan orang yang hadir secara langsung di ruang luring ini kini telah resmi menjadi bagian dari perajin kata yang siap bergabung dengan 13.000 penulis FLP di seluruh Indonesia. Bagi saya pribadi sebagai mahasiswa jurnalis, ToWR FLP hari itu bukan sekadar pelatihan biasa, melainkan sebuah manifesto bahwa literasi di Kabupaten Kepulauan Selayar tidak akan mati, bahkan oleh badai sekalipun. Sebab kami tahu bahwa setelah badai ini reda, akan ada lebih banyak lagi penulis dari Bumi Tanadoang yang siap menggoncang dunia lewat goresan pena mereka. (Sitti Nur Jannah)



