Menepis Abrasi Dengan Ribuan Bakau: Aksi Nyata Kelompok 2 UNISA di Pesisir Pantai Baros

Sangpencerah.web.id|BANTUL, YOGYAKARTA—Langkah kaki Dheya Aulya Saputri pagi itu terasa berbeda. Di bawah terik matahari pesisir Bantul, ia memimpin semangat teman-teman kuliahnya menuju garis pantai yang berlumpur. Sebagai bagian dari civitas akademika Universitas 'Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, Dheya Aulya Saputri bersama rekan-rekan di Kelompok 2 Jurusan Manajemen tidak ingin sekadar duduk manis di ruang kelas. Mereka turun langsung ke lapangan, membawa misi mulia dari mata kuliah Islam dan IPTEKS melalui Program Fikih Hijau. Bersama timnya yang solid, aksi restorasi hijau ini berhasil menggerakkan penanaman 1.500 pohon mangrove di Pantai Baros, Dusun Tirtohargo, Kapanewon Kretek, Kabupaten Bantul. Langkah nyata ini menjadi bukti otentik bagaimana nilai agama dan kepedulian lingkungan bisa diwujudkan dalam satu tindakan konkret.

Menatap wajah Pantai Baros yang sesungguhnya

Bagi Dheya Aulya Saputri dan timnya, Pantai Baros bukan sekadar destinasi wisata alam yang elok. Kawasan ini sebenarnya adalah pusat konservasi penting yang menjaga keseimbangan ekosistem pesisir serta menjadi muara edukasi bagi masyarakat luas. Namun, realita di lapangan menunjukkan tantangan ekologis yang berat. Pengikisan pantai akibat abrasi, risiko kerusakan dari aktivitas manusia, serta kurangnya kesadaran sebagian masyarakat menjadi alarm darurat yang harus segera direspons. Sebagai manusia yang mengemban amanah menjadi pemimpin di bumi, mahasiswa UNISA Yogyakarta memandang bahwa usaha rehabilitasi berupa penambahan vegetasi bakau sangat mendesak demi memperkuat benteng alami di wilayah pesisir tersebut.

Gotong royong di atas lumpur Pantai

Aksi ini diawali dengan proses pemaparan materi dari pengelola kawasan mengenai peran krusial tanaman mangrove bagi kelangsungan ekosistem pantai. Selesai pembekalan, momen yang paling ditunggu-tunggu pun tiba. Sambil memegang erat bibit-bit bakau, mereka bergotong royong menembus medan lumpur pesisir Pantai Baros. Proses penanaman dilakukan secara serentak, memadukan nilai kepedulian, tanggung jawab, serta kerja sama tim yang erat. Setiap bibit ditanam dengan teliti dan ditopang menggunakan ajir bambu agar tidak mudah hanyut oleh sapuan ombak.

Dampak instan yang langsung terasa di lapangan

Gerakan penanaman yang dipelopori oleh mahasiswa ini terbukti memberikan dampak positif jangka pendek yang bisa langsung terlihat nyata di lokasi penataan. Mengenai penahanan sedimen dan stabilisasi tanah, begitu bibit mangrove jenis Rhizophora ditanam menggunakan perakaran dan ajir pelindung, tanaman ini langsung bekerja menstabilkan substrat lumpur dari kikisan pasang surut air laut harian. Kehadiran tanaman yang rapat dikombinasikan dengan bronjong bambu pelindung juga berfungsi secara mekanis sebagai jaring pembatas untuk pengurangan sampah laut yang menjebak sampah plastik kiriman dari hulu muara Sungai Opak, sehingga tidak lolos ke laut lepas. Aktivitas ini sekaligus menjadi momen aktivasi ruang edukasi publik karena mengaktifkan kembali fungsi Pantai Baros sebagai laboratorium lapangan yang hidup, memicu transfer pengetahuan tentang konservasi lingkungan kepada masyarakat lokal. Terakhir, ada manfaat ekonomi langsung karena proyek ekologis ini menciptakan pendapatan instan bagi warga setempat melalui kelompok pelestari, mulai dari penyediaan bibit bakau, pembuatan bambu pelindung, hingga penyediaan akomodasi dan konsumsi bagi para peserta.

Warisan Hijau untuk generasi masa depan

Tentu saja, impian terbesar dari penanaman 1.500 pohon mangrove ini adalah kemanfaatannya di masa depan. Kelompok 2 sedang menginisiasi lahirnya benteng hijau pelindung pantai. Ketika tanaman bakau ini tumbuh lebat, struktur akar napasnya akan menjadi peredam alami energi gelombang tinggi, sekaligus membentengi pemukiman warga Tirtohargo dari ancaman tsunami dan abrasi ekstrem. Di samping itu, hutan mangrove ini memiliki kapasitas luar biasa dalam menyerap karbon atau disebut Blue Carbon yang hingga lima kali lebih besar dibanding hutan tropis daratan, sehingga sangat efektif menekan pemanasan global. Ekosistem yang matang juga menyediakan habitat permanen bagi berbagai fauna yang dilindungi, menjadi tempat bersarang burung migran, serta area pemijahan alami bagi ikan, udang, dan kepiting bakau. Melimpahnya stok ikan di kawasan muara ini tentu akan menjamin stabilitas pendapatan nelayan tradisional di masa mendatang.

Inspirasi yang terus tumbuh

Melalui gerakan ini, aspek ekologis, ekonomi, sosial, dan edukasi berhasil diintegrasikan secara utuh sebagai bentuk pengabdian nyata kepada alam. Keberhasilan aksi di lapangan ini tidak lepas dari kerja keras serta kolaborasi nyata dari seluruh anggota Kelompok 2 kelas 6A yang digerakkan bersama oleh Andinintya, Agibran, Ida, Thea, Raisa, dan Dheya Aulya Saputri. Semoga inisiatif hijau dari kampus UNISA Yogyakarta ini dapat terus berlanjut dan menjadi contoh bagi generasi muda lainnya dalam menjaga kelestarian bumi. (W/Dheya Aulya Saputri/Edt. Sitti Nur Jannah) 

Lebih baru Lebih lama