Sangpencerah.web.id|SELAYAR,—Tujuh puluh tiga sarjana kini berdiri anggun dengan toga mereka. Namun, di balik euforia pelantikan ini, sebuah pertanyaan besar membayangi: siapkah mereka menjawab tantangan zaman, atau justru terserap dalam riak pengangguran terdidik? Bagi Nurul Fadiah, wisudawati terbaik di salah satu prodi kampus ini, garis akhir acara hari ini hanyalah awal dari ujian yang sesungguhnya.
Angin laut berembus dingin menyapu tepian Benteng ketika malam mulai bertakhta. Di sebuah sudut ruang yang tenang di bawah remang lampu kota, Tim Redaksi Sang Pencerah News duduk berhadapan dengan Nurul Fadiah bersama sang ayah tercinta, Pak Amriadi (49). Di usianya yang baru menginjak 22 tahun, sosok kelahiran Lopi-Lopi, 15 Desember 2003 ini baru saja menuntaskan sepetak sejarah penting. Mengukuhkan dirinya sebagai Lulusan Terbaik Angkatan Pertama Program Studi Ilmu Komputer di Institut Teknologi, Sains, dan Bisnis Muhammadiyah (ITSBM) Selayar.
Di sampingnya, Pak Amriadi duduk dengan raut wajah penuh haru dan bangga. Tidak ada aura kesombongan yang terpancar dari tatapan mereka berdua. Yang ada hanyalah kesederhanaan sebuah keluarga pulau yang tumbuh bersama desir ombak dan cita-cita yang tak pernah padam, meski badai kehidupan sempat merenggut kehangatan pelukan seorang ibu.
Perjalanan ini bermula empat tahun lalu. Ketika itu, nama ITSBM Selayar masih terdengar asing di telinga sebagian orang, dan Program Studi Ilmu Komputer belum menjadi pilihan utama bagi kebanyakan lulusan SMA. Namun, bagi alumni SMA 3 Selayar ini, ada dorongan tak kasat mata yang menuntun langkahnya.
Tim Redaksi : "Mengapa saat itu Nurul memberanikan diri memilih ITSBM Selayar dan secara khusus mengincar Ilmu Komputer daripada program studi lain?"
Nurul Fadiah: "Saya memang sudah mengincar Ilmu Komputer sejak awal. Bagi saya, prospek dunia teknologi sangat luas. Momen ketika ITSBM Selayar membuka prodi tersebut adalah kesempatan emas yang tidak boleh saya lewatkan, meskipun saat itu statusnya masih sangat baru."
Dari modal keberanian itu, Nurul mulai menenun keterampilannya. Yang tadinya hanya memahami dasar-dasar pemrosesan kata dan pengoperasian perangkat lunak sederhana, perlahan menjelma menjadi penguasaan arsitektur sistem yang rumit.
Tim Redaksi Sang Pencerah: "Bagaimana Nurul melihat lompatan kemampuan teknis (skill) dari masa-masa awal masuk kuliah hingga kini resmi merengkuh gelar Sarjana Komputer?"
Nurul Fadiah: "Sangat jauh berbeda. Dulu saya hanya kenal dasar-dasar IT. Sekarang, alhamdulillah, saya bisa merancang sistem informasi berbasis web, mengelola database MySQL, membedah logika pemrograman PHP, JavaScript, hingga merajut tampilan antarmuka dengan HTML, CSS, dan Bootstrap. Lebih dari sekadar koding, kuliah mendidik saya cara menganalisis masalah dan menciptakan solusi sistemik."
Ilmu yang menumpuk di bangku kuliah tak dibiarkannya membusuk dalam ruang akademis yang dingin. Bagi Nurul, baris-baris kode pemrograman baru menemukan nyawanya ketika mampu mempermudah hidup sesama. Dedikasi itu ia buktikan saat mengabdi di Desa Harapan.
Tim Redaksi Sang Pencerah :"Bisa diceritakan bagaimana rancangan kode dan sistem yang Nurul pelajari berintegrasi langsung dengan kebutuhan masyarakat desa?"
Nurul Fadiah: "Saya merancang sistem informasi kependudukan dan pemetaan potensi warga berbasis web untuk Desa Harapan. Sebelumnya, pendataan kerap kali memakan waktu dan rentan terselip. Melalui sistem ini, aparat desa kini memiliki basis data yang terstruktur, rapi, dan cepat diakses."
Namun, panggung seremonial wisuda telah usai. Gemuruh tepuk tangan di gedung serbaguna itu kini digantikan oleh kesunyian realitas. Sebanyak 73 wisudawan angkatan pertama resmi dilepas ke tengah masyarakat. Sebuah angka yang tampak mentereng di panggung akademis, namun menyimpan pertanyaan getir di tengah minimnya lapangan kerja daerah: apakah jubah toga ini benar-benar menjadi modal penakluk zaman, atau sekadar bendera seremoni penambah deretan angka pengangguran terdidik yang baru?
Tim Redaksi Sang Pencerah: "Panggung euforia toga telah rampung dan kini 73 lulusan angkatan pertama melangkah ke persimpangan realitas. Di tengah ketatnya ruang kerja dan kekhawatiran publik akan lahirnya pengangguran berijazah baru, apa langkah nyata yang akan Nurul lakukan setelah resmi menyandang gelar ini?"
Nurul Fadiah: "Lihat nanti."
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kampus yang diwarnai bendera organisasi mahasiswa seperti BEM maupun IMM, nama Nurul Fadiah tak pernah tercantum dalam daftar pengurus. Sebuah kenyataan yang cukup kontras bagi seorang peraih predikat wisudawati terbaik.
Tim Redaksi : "Banyak mahasiswa mengejar nilai tambah melalui BEM atau IMM. Apa yang membuat Nurul memilih jalan yang berbeda?"
Nurul Fadiah: "Bukan karena tidak berminat, melainkan karena realitas jarak dan aksesibilitas. Rumah saya jauh di kampung dan saya memiliki keterbatasan transportasi. Aktivitas organisasi menuntut kehadiran rutin hingga malam, dan kondisi geografis saya tidak memungkinkan untuk itu. Saya harus realistis menata prioritas."
Tim Redaksi : "Lantas, bagaimana Nurul memandang rekan-rekan aktivis kampus yang mungkin belum berkesempatan meraih predikat akademik tertinggi?"
Nurul Fadiah: "Saya sangat menghargai mereka. Jika mereka belum berada di posisi puncak secara akademis, bukan berarti mereka tidak mampu. Lingkaran pertemanan dan fokus perhatian sangat menentukan. Ketika fokus terbagi ke banyak hal, tentu dinamika hasilnya pun berbeda. Setiap orang punya arena perjuangannya masing-masing."
Di balik ketelitiannya membedah logika algoritma, Nurul tetaplah seorang gadis muda dengan sisi humanis yang hangat. Di kala penat melanda, ia memilih meluapkan rasa lewat alunan musik.
Tim Redaksional : "Di luar layar monitor dan tumpukan jurnal, bagaimana seorang Nurul Fadiah menikmati waktu luangnya?"
Nurul Fadiah: "Saya suka menyanyi, terutama lagu-lagu dangdut. Kalau untuk kuliner, porsi ayam lada hitam ditemani segelas jus apel segar selalu sukses mengembalikan energi saya."
Tim Redaksi: Seberapa pentingkah menurutmu kuliah, Sarjana, kerja, bisnis dan Pacaran?
Nurul Fadiah: "Kuliah penting untuk menambah ilmu, pengalaman, relasi, dan membentuk pola pikir sebelum masuk ke dunia kerja atau bisnis.
Gelar sarjana penting sebagai bukti pendidikan dan dapat membuka lebih banyak peluang kerja, meskipun bukan satu-satunya penentu kesuksesan.
Kerja penting untuk menjadi mandiri, mendapatkan pengalaman, memenuhi kebutuhan hidup, dan menerapkan ilmu yang sudah dipelajari.
Bisnis penting sebagai salah satu cara membangun kemandirian finansial dan menciptakan peluang bagi diri sendiri maupun orang lain.
Pacaran bukan hal utama, tetapi bisa menjadi bagian dari kehidupan untuk belajar memahami, menghargai, dan bertanggung jawab dalam sebuah hubungan."
Perbincangan Malam itu perlahan menyentuh ruang paling personal. Suasana mendadak hening tatkala nama almarhumah Rosmiati tersebut dalam narasi. Ibu yang dicintai Nurul berpulang tahun lalu secara mendadak, tanpa menunjukkan tanda-tanda sakit sebelumnya.
Sejak kecil, Nurul lebih banyak diasuh oleh sang nenek karena sang ayah, Pak Amriadi, harus bekerja keras di sektor swasta demi menopang kebutuhan dua bersaudara ini. Di sela-sela kesibukannya, Pak Amriadi selalu menyempatkan diri menyapa Nurul lewat telepon, memberikan untaian doa dan ucapan selamat atas pencapaian sang putri.
Tim Redaksi :"Gelar wisudawati terbaik kini sudah di tangan. Apa persembahan terindah yang ingin Nurul haturkan untuk Ayah dan almarhumah Ibu?"
Nurul Fadiah: "Yang ingin saya berikan kepada orang tua setelah menjadi sarjana bukan hanya materi, tetapi juga kebahagiaan, kebanggaan, dan kehidupan yang lebih baik. Saya ingin membalas segala pengorbanan, doa, dukungan, dan perjuangan mereka dengan menjadi anak yang sukses, mandiri, dan bertanggung jawab. Saya juga ingin menggunakan ilmu yang saya miliki untuk mendapatkan pekerjaan yang baik, membantu kebutuhan keluarga, dan suatu hari bisa memberikan kehidupan yang nyaman kepada mereka. Gelar sarjana ini bukan hanya pencapaian saya, tetapi juga bentuk kecil dari rasa terima kasih kepada orang tua yang telah mengantarkan saya sampai di titik ini."
Ketika disodorkan sebuah pertanyaan terakhir yang mengandaikan sebuah keajaiban, Nurul menatap sang ayah yang duduk bersisian dengannya. Jawaban Nurul menyentuh dasar sanubari siapa saja yang mendengarnya.
Tim Redaksi Sang Pencerah News: "Jika ada satu saja permintaan di dunia ini yang bisa dikabulkan hari ini, apa permintaan tertinggi seorang Nurul Fadiah?"
Nurul Fadiah: (Suara bergetar pelan) "Saya hanya ingin satu hal... Saya ingin Ibu bisa hadir, duduk di samping Ayah di kursi undangan, dan menyaksikan langsung anaknya mengenakan toga wisuda ini..."
Biarpun raga sang ibu tak lagi mendekap, doa-doanya bersama restu sang ayah telah membubung tinggi, menjadi angin yang menerbangkan Nurul Fadiah menuju puncak prestasinya. Bagi almamater ITSBM Selayar, sosok Nurul dan kebersamaan dengan ayahnya adalah bukti nyata bahwa cinta keluarga dan keteguhan hati mampu menaklukkan segala keterbatasan. (Jannah/Ishaq)
REKAPITULASI PROFIL NURUL FADIAH
- Nama Lengkap: Nurul Fadiah
- TTL / Usia: Lopi-Lopi, 15 Desember 2003 (22 Tahun)
- Pendidikan: SMA 3 Selayar • S1 Ilmu Komputer ITSBM Selayar
- Capaian Akademik: Lulusan Terbaik Angkatan Pertama Prodi Ilmu Komputer ITSBM Selayar
- Orang Tua: Amriadi (Ayah) & Almarhumah Rosmiati (Ibu)
- Dosen Pembimbing: Abdul Ma'arief Al Imran, S.Pd., M.Pd.
- Sahabat Karib: Risa Wulandari
- Karya Pengabdian: Sistem Informasi Kependudukan & Potensi Desa Harapan Berbasis Web
- Hobi/Makanan Favorit: Menyanyi (Dangdut), Ayam Lada Hitam & Jus Apel






