Sentuhan Empati Shalwa Salzabila: Menenun Makna Melalui Deretan Huruf Braille di Atas TouchBag

Shalwa Salzabila Mahasiswi jurusan Pendidikan Khusus Universitas Negeri Makassar (Photo: Edt. magfiratul Jannah) 

Sangpencerah.web.id| MAKASSAR.— Di tangan Shalwa Salzabila, sebuah totebag bukan sekadar ruang penyimpan benda. Ia bertransformasi menjadi kanvas yang bicara, menjadi jembatan antara dunia yang penuh warna dan mereka yang mengenal semesta lewat jemari.

​Lahir dari sebuah keresahan sunyi tentang betapa eksklusifnya dunia mode, mahasiswi Pendidikan Khusus Universitas Negeri Makassar ini memperkenalkan TouchBag. Ini adalah sebuah bukti bahwa keindahan tidak melulu soal apa yang tertangkap mata, melainkan apa yang mampu mengetuk sanubari melalui rasa.

​"Visi TouchBag adalah menjadi brand fashion inklusif yang menghadirkan produk tidak hanya untuk dilihat, tetapi juga untuk dirasakan, sekaligus membangun jembatan empati yang nyata antara masyarakat umum dan penyandang disabilitas netra," ungkap Shalwa dengan penuh keyakinan.

​Keunikan TouchBag terletak pada kejujurannya. Di atas kain Drill berkualitas, tersemat barisan huruf Braille timbul yang bukan sekadar hiasan mesin. Kata-kata motivasi yang tertera di sana adalah goresan tangan langsung dari kawan-kawan tunanetra. Ada napas dan doa yang dititipkan dalam setiap titik timbulnya, menjadikan setiap tas memiliki jiwa yang autentik.

​Untuk menghidupkan visi besar tersebut, Shalwa Salzabila bergerak melalui tiga pilar utama:

​Keaslian yang Bermakna: Menghadirkan totebag inklusif dengan tulisan Braille yang ditulis langsung oleh teman-teman tunanetra, memastikan produk ini memiliki makna yang sesungguhnya.

​Edukasi Lewat Jari: Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya inklusivitas melalui pengalaman langsung dalam kehidupan sehari-hari.

​Relevansi Modern: Memastikan pesan kemanusiaan ini tetap selaras dengan gaya hidup masa kini melalui desain minimalis dan trendi.

​TouchBag kini berdiri sebagai bukti bahwa inovasi terbaik muncul ketika empati bertemu dengan aksi. Shalwa Salzabila tidak hanya menjual tas; ia sedang menjahit kembali serat-serat kepedulian sosial yang sempat terputus, satu titik Braille pada satu waktu.

Inovasi ini lahir dan berkembang di bawah bimbingan tangan dingin Dr. H. Syamsuddin, M.Si. dan Nur Wulandani, S.Pd., M.Pd. selaku dosen mata kuliah Kewirausahaan, yang terus mendorong mahasiswa untuk menciptakan solusi nyata bagi problematika sosial.(Sitti Nur Jannah) 

Lebih baru Lebih lama