Aksi Nyata Fikih Hijau: Serunya Kelompok 4 Manajemen UNISA Menanam 1.500 Mangrove di Pantai Baros

Sangpencerah.web.id|BANTUL, YOGYAKARTA—Halo, Eco-Buddies! Pernah kepikiran nggak kalau menjaga kelestarian alam itu sebenarnya bagian dari pembuktian iman kita?

Nah, hal keren inilah yang baru saja dibuktikan oleh teman-teman kita dari Kelompok 4 Jurusan Manajemen A Universitas 'Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta. Di bawah bimbingan langsung dosen pengampu Dr. M. Nurdin, S.Th.I., M.S.I., mereka menyulap tugas mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) menjadi sebuah aksi nyata yang super berdampak bagi lingkungan pesisir!

Tepat pada hari Sabtu, 20 Juni 2026, kawasan Pantai Baros di Dusun Tirtohargo, Kecamatan Kretek, Bantul, diramaikan oleh langkah penuh semangat para mahasiswa. Bukan cuma sekadar seremonial atau foto-foto cantik, mereka beneran turun langsung buat menanam 1.500 pohon mangrove! Program keren ini dikomandoi langsung oleh Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam (LPPI) UNISA Yogyakarta dengan mengacu pada teologi lingkungan.

Ada Apa dengan Pantai Baros? (Urgensi Konsep Fikih Hijau)

Kalau main ke area pesisir selatan Yogyakarta, kita pasti sadar kalau ekosistem pantai kita sedang tidak baik-baik saja. Laju abrasi yang meluas, tumpukan sampah, pencemaran lingkungan, hingga minimnya kesadaran untuk merawat alam bikin hutan mangrove kita makin menyusut. Efeknya sedih banget: habitat biota laut jadi rusak dan otomatis bikin hasil tangkapan nelayan lokal di Bantul ikutan menurun.

Kehadiran konsep Fikih Hijau masuk membawa jawaban. Lewat pemahaman Eco-Tauhid, Persyarikatan Muhammadiyah mengingatkan kita kalau manusia diciptakan di bumi sebagai Khalifah fil Ardh (pemimpin di bumi) yang punya mandat besar untuk menjaga keseimbangan alam, bukan merusaknya.

Aksi ini juga dipertegas lewat landasan spiritual di Al-Qur'an Surah Al-A'raf ayat 56:

"Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya..."

Kompak di Lapangan: Kolaborasi Lintas Angkatan

Agenda restorasi ini jadi momen seru karena dikemas lewat kolaborasi yang solid. Teman-teman dari Kelompok 4 Manajemen A bareng mahasiswa program studi lain, bahkan kakak tingkat, kompak bahu-membahu di sepanjang pesisir Pantai Baros. Masing-masing mahasiswa memegang tanggung jawab menanam minimal 3 bibit mangrove.

Di lapangan, kegiatannya nggak melulu soal menanam. Mereka juga menyempatkan diri buat ngobrol, sosialisasi, dan edukasi dua arah dengan warga sekitar. Targetnya jelas: membangun green belt (sabuk hijau) alami pelindung daratan, sekaligus menitipkan warisan kebaikan yang manfaatnya bisa terus mengalir sampai generasi masa depan.

Dampak yang Langsung Terasa (Manfaat Jangka Pendek)

Nggak perlu nunggu waktu lama, gerakan menanam serentak ini langsung membawa getaran positif:

  • Edukasi Nyata & Naik-Kelasnya Kesadaran Warga: Ngobrol langsung di lapangan ternyata jauh lebih mempan daripada sekadar nempel poster imbauan di jalanan. Warga tertular semangat mahasiswa, dan mahasiswa pun belajar banyak tentang kearifan lokal pesisir.
  • Struktur Tanah Mulai Terjaga: Bibit-bibit mangrove yang mulai tertanam langsung bekerja menyaring sedimen dan menstabilkan lumpur pantai biar nggak gampang terkikis air laut.
  • Pantai Jadi Lebih Estetis: Perubahan visual pesisir yang tadinya gersang perlahan jadi lebih hijau dan segar di mata. Bikin suasana hati jadi makin adem!
  • Asah Soft Skill Mahasiswa: Sebagai anak Manajemen, terjun ke lapangan seperti ini otomatis melatih kerja sama tim, kemampuan eksekusi proyek, hingga rasa tanggung jawab sosial.
  • Solidaritas Tanpa Batas: Lelahnya menggali tanah dan mengangkut bibit justru melahirkan ikatan emosional dan gotong royong yang kuat antara mahasiswa dengan komunitas nelayan lokal.

Investasi Masa Depan (Manfaat Jangka Panjang)

Investasi itu nggak selalu soal uang, menanam pohon bakau adalah investasi ekologis terbaik:

  • Benteng Alami Penghalau Abrasi: Akar mangrove yang rapat dan kuat bakal jadi tameng alami pemecah gelombang pasang.
  • Rumah Baru Bagi Biota Pesisir: Akar bakau yang terendam air adalah tempat paling nyaman buat ikan, udang, dan kepiting untuk berkembang biak. Kalau ekosistemnya ramai, nelayan lokal pasti makin sejahtera!
  • Penyerap Karbon Raksasa (Blue Carbon): Fakta kerennya, hutan mangrove mampu mengunci dan menyimpan karbon jauh lebih banyak per hektar dibanding hutan tropis biasa di daratan!
  • Peluang Ekowisata Baru: Kawasan hutan bakau yang rapi dan lestari punya potensi besar disulap jadi tempat wisata edukasi (ekowisata). Ini bisa membuka ladang ekonomi baru, mulai dari kuliner sampai kerajinan warga lokal.
Pesan dari Akar: Tumbuh Harapan Baru

Dari 1.500 bibit kecil yang ditanam hari ini, tersimpan harapan besar untuk masa depan Pantai Baros yang lebih kokoh dan lestari. Gerakan Fikih Hijau membuktikan kalau menjaga alam adalah bagian dari tanggung jawab keimanan kita kepada Sang Pencipta.

Namun, perjuangan belum selesai! Karena pohon bakau butuh waktu bertahun-tahun untuk tumbuh matang, merawatnya adalah kunci. Langkah awal yang inspiratif ini sukses digerakkan oleh tim pelaksana lapangan dari Kelompok 4 Manajemen A yang beranggotakan Bunga Triska Olivia, Flora Amelia Senjaya, Wisnu Romadhon, Inka Ramadhani, Intan Nabila Liza, Fatimatus Zahro, Zalita Nur Janah, Jingga, Lia Lestari, Arin Pratiwi Putri, dan Beny Abdul Aziz.

Sangat direkomendasikan agar Project Fikih Hijau ini bisa diteruskan oleh adik-adik tingkat di periode berikutnya, baik dalam bentuk perluasan area tanam maupun pemantauan pertumbuhan bakau yang sudah ada. Semoga semangat ini terus hidup berkelanjutan, dari satu angkatan ke angkatan berikutnya!

Salam Lestari, Green Buddies! Sampai jumpa di ulasan aksi sosial keren berikutnya! (W/Zalita Nur Janah/Edt. Sitti Nur Jannah) 

Lebih baru Lebih lama