Puisi “Titian Masa Depan Cerah” karya Akbar Silo bukan sekadar rangkaian kata yang indah. Ia dapat dibaca sebagai sebuah manifesto kebudayaan, upaya merumuskan arah masa depan masyarakat Selayar dengan bertumpu pada nilai Islam, kearifan lokal siri’, dan semangat modernitas.
kita berpeluang melihat visi kuat: bahwa adat bukan beban masa lalu, melainkan kompas dan petunjuk moral untuk mencari jalur masa depan. Akan tetapi, setiap gagasan ini perlu diuji pada medan realitas sosial yang tidak selalu sederhana, tidak semudahmembalik telapak tangan.
Adat dan Realitas Generasi Muda
Siri’ sebagai nilai luhur masyarakat kita punya posisi penting dalam puisi ini, menjadi fondasi etika dan martabat generasi muda, tapi, kita harus jujur membaca realitas hari ini. Rakyat Selayar hidup dalam tekanan ekonomi global, pekerjaan tdk ada, serta perubahan budaya digital yang sangat cepat. Dalam situasi ini, memicu tanda tanya penting: apakah nilai adat sudah cukup diterjemahkan menjadi jawaban atas kebutuhan hidup mereka?
Ini tantangan kita bersama. Nilai siri’ tidak boleh berhenti sebagai konsep kehormatan yang abstrak, tetapi perlu hadir sebagai etos kerja baru, integritas dalam dunia digital, kejujuran dalam isyu ekonomi kreatif, dan profesionalisme dalam ruang kerja modern. Dengan begitu, adat tidak akan terasa jauh dari kehidupan sehari-hari anak muda.
Teknologi dan Laut yang Harus Dijaga?
Ini punya pesan ekologis yang kuat : laut dan darat bukan untuk ditaklukkan, tetapi untuk dijaga. Ini adalah pandangan yang sangat relevan bagi masyarakat kepulauan seperti Selayar.
Namun di sisi lain, puisi ini juga mendorong penguasaan sains dan teknologi. Di titik inilah muncul peoblem yang perlu kita pikirkan bersama: cara memastikan teknologi tidak berubah menjadi alat eksploitasi?
Modernisasi sektor kelautan, misalnya, sering kali membawa risiko baru berupa penangkapan ikan berlebihan atau kerusakan ekosistem. Untuk itu, kita butuh arah baru: teknologi ramah lingkungan, atau yang sering disebut sebagai blue economy, konomi biru yang menyeimbangkan produksi dan konservasi.
Kampus, pemerintah, dan masyarakat bisa duduk bersama untuk memastikan bahwa kemajuan tidak berjalan dengan mengorbankan laut yang menjadi sumber kehidupan kita. Dalam kerangka ini, pola apa yg tepat?
Jarak Generasi yang Perlu Dijembatani
yang menarik dalam puisi ini adalah harapan tentang persatuan generasi tua dan muda. Harapan ini sangat penting, tetapi dalam praktik sosial, kita masih sering melihat adanya jarak pandang.
Generasi tua cenderung menjaga adat dalam bentuk yang lebih ketat, sementara generasi muda hidup dalam dunia yang lebih cair, terbuka, dan global. Jika tidak ada ruang dialog yang sehat, maka yang terjadi bukanlah persatuan, melainkan salah paham yang terus berulang.
kita membutuhkan ruang pertemuan, di mana generasi tua bisa menyampaikan nilai, dan generasi muda bisa menyampaikan realitas.
Kampus, forum komunitas, dan ruang-ruang diskusi publik bisa menjadi jembatan penting untuk itu.
Puisi Prof. Akbar Silo telah memberi kita sebuah fondasi pemikiran yang penting tentang masa depan Selayar. Ia mengajak kita untuk tidak meninggalkan adat, tetapi juga tidak menutup diri dari perubahan zaman.
Tugas kita hari ini adalah menerjemahkan gagasan besar itu ke dalam langkah-langkah nyata: dalam pendidikan, dalam kebijakan, dan dalam kehidupan sosial sehari-hari.
Jika tidak, maka titian yang digambarkan dalam puisi itu akan tetap indah dalam kata-kata, tetapi belum sepenuhnya menjadi jalan yang kita pijak bersama. (Prof. Akbar Silo/Sitti Nur Jannah)

