Sangpencerah.web.id|SELAYAR,—Pernahkah Anda mendapati diri Anda begitu geram, sedih, atau langsung menekan tombol share setelah melihat sebuah video pendek yang viral di media sosial, tanpa sempat memeriksa siapa yang mengunggahnya? Di era di mana jempol bergerak lebih cepat daripada pikiran, kita sering kali terjebak dalam pusaran arus informasi yang riuh. Media sosial yang awalnya kita bayangkan sebagai ruang pembebasan, perlahan justru terasa seperti ruang penyeragaman berpikir. Mengapa publik saat ini begitu rapuh dan mudah digiring oleh narasi-narasi digital?
Tulisan dari Dr. Antong Amiruddin, SE, M.Si, seorang akademisi dari Universitas Muhammadiyah Palopo berikut ini, akan membedah secara jeli anatomi di balik kerapuhan kognitif kita. Sebuah refleksi mendalam yang melihat bahwa fenomena ini bukan sekadar soal kelalaian digital, melainkan sebuah akumulasi dari luka sosial dan pergeseran budaya yang sistemik. Mari kita simak.
°°°
Hari ini, kita menyaksikan sebuah fenomena sosiologis yang mencemaskan di ruang digital: masyarakat begitu mudah terombang-ambing oleh arus informasi. Mengapa orang saat ini sangat mudah tergiring oleh opini medsos? Sebagai seorang akademisi, saya melihat fenomena ini tidak terjadi secara instan, melainkan berakar pada pergeseran budaya media dan akumulasi psikologi massa yang mendalam. Jika dibedah secara analitis, ada beberapa alasan fundamental yang melandasi kerapuhan kognitif publik di era digital ini.
Pertama Stigma Validitas Masa Lalu dan Ilusi Kebenaran Viral. Alasan pertama terletak pada bagaimana memori kolektif kita memperlakukan informasi. Di zaman sebelumnya, orang sudah terbiasa dengan berita-berita media massa dan berita radio atau TV, dan menjadikan itu sebagai rujukan kebenaran. Keberadaan dewan redaksi dan sensor ketat pada media konvensional di masa lalu tanpa sadar telah membentuk pola pikir masyarakat. Sehingga ini menjadi sebuah parameter validitas sebuah berita, yang kemudian terstigma ke dalam dunia medsos. Lompatan teknologi ini sayangnya tidak dibarengi dengan penyelarasan literasi kritis. Akibat adanya stigma warisan tersebut, masyarakat modern kerap menyamakan panggung media sosial dengan keabsahan media massa masa lalu. Inilah alasan mengapa setiap yang memposting atau memviralkan, maka dianggap selalu benar. Jumlah views, likes, dan tingkat viralitas secara keliru diadopsi oleh alam bawah sadar publik sebagai stempel keabsahan fakta.
Kedua, Katarsis Frustrasi Sosial atas Rasa Ketidakadilan. Alasan kedua menukik pada luka sosial yang membekas di tengah masyarakat. Adanya rasa ketidakadilan terpendam selama ini yang dialami atau disaksikan oleh masyarakat tentang sebuah norma hukum ataupun norma kemasyarakatan lainnya, bahwa masyarakat kecil sangat sulit mendapatkan keadilan dan selalu terjadi diskriminasi oleh pihak-pihak berkuasa dan kuat. Ketidakpercayaan terhadap institusi hukum di dunia nyata ini menemukan saluran pelepasan di dunia maya. Sehingga saat di zaman medsos ada orang yang membuat framing tentang perlakuan ketidakadilan, langsung mendapat respon dukungan begitu cepat tanpa mempedulikan cross-check validitas kebenarannya. Publik yang sedang haus akan keadilan tidak lagi memedulikan apakah informasi itu valid atau tidak, mereka langsung memberikan dukungan instan karena narasi tersebut mewakili suara batin dan penderitaan mereka sendiri. Dukungan digital ini menjadi semacam aksi balas dendam sosial yang katartik.
Ketiga, Implikasi One-Dimensional Man (manusia satu dimensi). Fenomena kepatuhan massal terhadap framing media sosial ini sangat sejalan dengan tesis Herbert Marcuse dalam bukunya One-Dimensional Man. Marcuse memperingatkan bahwa masyarakat modern yang dikendalikan oleh teknologi cenderung kehilangan "daya negasi" yaitu kemampuan untuk berpikir kritis, menolak, dan mempertanyakan apa yang disajikan oleh sistem. Di era digital, media sosial menjelma menjadi instrumen penyeragaman berpikir. Ketika algoritma mencekoki publik dengan narasi yang seragam dan viral, ruang dialektika dalam pikiran manusia perlahan lumpuh. Masyarakat diredusir menjadi manusia satu dimensi yang menelan mentah-mentah opini dominan tanpa gairah untuk melakukan tabayun/verifikasi. Ruang digital yang dikira membebaskan, sebenarnya sedang menjinakkan nalar kritis kita secara massal.
Fenomena Ekonomi Perhatian (Attention Economy) dan Kepuasan Semu para Aktor. Kombinasi antara stigma validitas masa lalu, luka ketidakadilan, dan kelumpuhan nalar kritis inilah yang kemudian menyuburkan ekosistem digital kita hari ini. Inilah menjadi alasan mengapa fenomena framing, influencer, maupun provokasi sangat mudah dilakukan via media sosial. Ekosistem ini berubah menjadi komoditas industri yang sangat menguntungkan. Fenomena ini akan sangat dinikmati para aktornya karena merasa sangat penting oleh banyaknya like atau support dari banyak orang dari asal dan latar belakang yang berbeda-beda. Melalui teori Attention Economy, para aktor politik, influencer, dan buzzer ini mendulang dopamin ego dan popularitas dari riuhya dukungan netizen bahkan dalam bentuk monetisasi. Mereka merasa menjadi pahlawan baru, padahal mereka hanya sedang mengeksploitasi emosi masyarakat yang rapuh.
Mudahnya masyarakat tergiring opini media sosial adalah dampak dari bertemunya gagap literasi masa lalu, ketimpangan hukum di dunia nyata, serta penyeragaman kognitif nalar satu dimensi. Selama rasa ketidakadilan di masyarakat kecil belum dituntaskan oleh penegak hukum, dan selama nalar kita malas melakukan cross-check, selama itu pula publik akan terus menjadi bahan bakar yang reaktif bagi mesin-mesin framing para pemburu panggung digital. (Dr. Antong Amiruddin, SE, M.Si)
°°°
Pada akhirnya, layar gawai kita hanyalah sebuah cermin. Apa yang tersaji di sana, baik kegaduhan, penghakiman massal, maupun framing yang manipulatif adalah pantulan dari rapuhnya nalar kritis dan dahaganya kita akan keadilan di dunia nyata. Menjadi kritis di era digital memang melelahkan, sebab ia menuntut kita untuk berhenti sejenak, berpikir, dan melakukan tabayun di tengah riuhnya arus viralitas.
Pilihan kini ada di tangan kita: tetap menjadi penonton satu dimensi yang pasrah disetir oleh algoritma dan para pemburu panggung, atau mulai berdaulat atas pikiran kita sendiri. Bagaimana menurut Anda, apakah kita sudah cukup merdeka dalam berpikir di media sosial hari ini? (Sitti Nur Jannah)


