![]() |
| Ilustrasi kader Muhammadiyah. (Google) |
Belakangan ini, perhatian publik di Kepulauan Selayar tertuju pada dinamika yang dialami seorang mahasiswa ITSBM Muhammadiyah yang mengaku mengalami hambatan dalam mengikuti Darul Arqam Dasar (DAD) IMM di Makassar. Terlepas dari bagaimana fakta dan mekanisme organisasi nantinya menjelaskan persoalan tersebut, peristiwa ini menghadirkan ruang refleksi bagi semua pihak tentang bagaimana proses kaderisasi dijalankan.
Dalam organisasi sebesar Muhammadiyah, perbedaan pandangan adalah sesuatu yang wajar. Namun, semangat musyawarah, tabayun, dan pembinaan hendaknya selalu menjadi jalan utama dalam menyelesaikan setiap persoalan. Sebab, kaderisasi bukan sekadar proses administrasi, melainkan proses mendidik manusia yang kelak akan memikul amanah Persyarikatan.
Muhammadiyah selama ini dikenal sebagai gerakan yang terbuka dalam melahirkan kader-kader berilmu, berintegritas, dan berkemajuan. Karena itu, setiap dinamika dalam proses pengkaderan patut dijadikan bahan evaluasi bersama agar sistem yang telah dibangun semakin kuat dan semakin dipercaya oleh generasi muda.
Kasus yang berkembang di Selayar hendaknya tidak dipandang semata-mata sebagai persoalan individu, melainkan momentum untuk memperkuat budaya dialog, memperjelas mekanisme organisasi, dan memastikan bahwa setiap calon kader memperoleh kesempatan yang adil sesuai ketentuan yang berlaku.
Pada akhirnya, keberhasilan kaderisasi tidak hanya diukur dari banyaknya peserta yang mengikuti pelatihan, tetapi juga dari kemampuan organisasi membina, merangkul, dan menyelesaikan setiap persoalan dengan menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan, persaudaraan, dan dakwah yang menjadi ruh Muhammadiyah.
Semoga setiap dinamika yang terjadi menjadi jalan menuju kaderisasi yang semakin berkualitas, sehingga Muhammadiyah terus melahirkan kader-kader yang mampu mengabdi kepada Persyarikatan, umat, bangsa, dan kemanusiaan. (Fahmiy Rahman Gani)

